Selasa, 20 Desember 2016

Menanggapi Esai "Menimbang (Ketiadaan) UN"

Nama: Anantika Prihatani
NPM: 15410228
Kelas: 3E



Menanggapi tulisan Setia Naka Andrian "Menimbang (Ketiadaan) UN dalam Wawasan 14 Desember 2016. Saya sependapat dengan tulisan Naka. Bahwasanya UN dilakukan hanya sekadar untuk formalitas kelulusan belaka. Setiap siswa pasti yang ditakuti hanyalah ujan Nasional, tidak lah nilai harian, bahkan acuh terhadap nilai yang guru berikan. Momok mengerikan itulah yang membikin seorang siswa termasuk saya saat itu untuk giat belajar pada semester akhir. Ilmu lain yang selama ini didapat pastilah sedikit menghilang karena termakan oleh ilmu yang diujikan.

Pemerintah seharusnya sadar dari awal jika Ujian Nasional pasti akan disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu. Seperti penjualan kunci jawaban yang belum tentu kunci jawaban itu benar. Saya pernah membeli kunci jawaban UN dengan harga Rp 175.000, memang mahal pada saat itu, tetapi tidak ada satupun data yang benar, saya mencoba membalik dari atas, bawah, samping tidak ada yang benar. Sedikit menyesal saya saat itu, tidak apalah diambil hikmahnya juga pengalaman.

Jika benar adanya pembubaran UN, saya orang yang sangat setuju dengan itu. Bagaimana tidak, seorang siswa bahkan guru tidak akan terbebani dalam belajar mengajar. Siswa dapat fokus belajar tanpa khawatir dengan kelulusan, guru pun akan sangat tenang dalam mendidik siswanya. Orang tua juga tidak akan khawatir terhadap nilai kelulusan anaknya, orang tua bahkan tidak perlu lagi memberikan les atau tambahan pelajaran di lembaga pendidikan tertentu dengan biaya yang sangat menguras dompet.

Digantinya Ujian Nasional menjadi Ujian Sekolah merupakan rencana yang efektif oleh pemerintah saat ini. Dengan demikian Sekolah diharapkan mampu menjadikan kelulusan siswanya dengan jujur dan adil serta dapat dipertanggungjawabkan. Tidak hanya itu, orang tua serta siswa harus ikut mendukung terealisasinya rencana ini, tidak perlu melakukan aksi demo didepan Istana Merdeka, hanya dengan doa dan sedikit usaha pun akan dapat terwujud rencana ini. Semoga rencana pemerintah yang indah ini dapat cepat terealisasi dengan baik sehingga adik-adik siswa ini dapat menikmatinya dengan segera pula. Semoga.

Esai "Termotivasi Kehadiran sang Sastrawan"

Nama : Anantika Prihatani
NPM : 15410228
Kelas : 3E
Termotivasi kehadiran Sang Sastrawan
UPGRIS Bersastra baru saja digelar di Balairung Universitas PGRI Semarang 19 Oktober ini. Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni mengundang seorang sastrawan bernama Triyanto Triwikromo. Perhelatan yang bertajuk 3 Buku, 3 Pembaca, 3 Kritikus, 1 Pengarang ini dihadiri oleh beberapa kalangan sastrawan, penyair, rektor beserta jajarannya, tak lupa mahasiswa UPGRIS yang mulia. Beberapa pembaca seperti Sri Suciati, Muhdi dan Bambang Sulanjar turut memeriahkan perhelatan tersebut. Acara tersebut dipersembahkan oleh FPBS kepada Triyanto Triwikromo sebagai penghargaan tersendiri baginya.
Ada beberapa hal menarik yang disuguhkan. Hadirnya dancer  yang sebelumnya tidak pernah dihadirkan dalam acara yang berhubungan dengan sastra. Tidak hanya itu, pembacaan puisi yang berbeda dari biasanya oleh Bambang Sulanjar pun menambah kesan alami dalam gedung. Tepuk tangan penonton yang sangat gemuruh memecahkan keheningan didalam ruangan megah itu. Tak mau kalah, rektor Universitas PGRI Semarang ikut memeriahkan acara dengan membacakan salah satu karya Triyanto Triwikromo dan menyanyikan sebuah lagu karyanya sendiri khusus dipersembahkan dengan diiringi petikan gitar dari jemarinya. Wakil rektor pun tak kalah istimewa dengan yang lain, dengan didampingi mahasiswanya puisi yang ia bacakan dapat dinyanyikan bagaikan geguritan tembang macapat.
3 buku karya Triyanto Triwikromo yang diangkat dalam acara ini yaitu Bersepeda ke Neraka, Selir Musim Panas, dan Sesat Pikir para Binatang. Bersepeda ke Neraka adalah judul yang sangat menarik perhatian, sama seperti dua judul yang lain. Entah apa yang ada dalam pikiran Triyanto Triwikromo hingga judul yang beliau tulis pasti menggemparkan dunia sastrawan. Sinopsis Selir Musim Panas yang saya kutip dari togamas.co.id yaitu lirik-lirik perih yang menggambarkan intrik pada masa sebelum dan sesudah Ratu Tzu Hsi berkuasa di Tiongkok. Teks-teks ini juga menunjukkan sisi lain Mao, Tiananmen, Puyi, kegairahan selir-selir menghadapi hidup dan kematian, serta pencarian jati diri kemanusiaan. Bagi saya, judul buku yang paling menakutkan yaitu Bersepeda ke Neraka, bagaimana tidak jika setiap orang pasti berbondong-bondong untuk ke surga tapi bung Triyanto Triwikromo justru memilih bersepeda ke Neraka. Sesat Pikir para Binatang pun tidak kalah bagusnya Dengan buku yang lain.
Tiga kritikus yang mengomentari karya Triyanto Triwikromo yaitu S. Prasetyo, Nur Hidayat dan Eko Putra. Masing-masing kritikus memiliki kriteria tersendiri dalam menilai karya seseorang. Seluruh kritikus memberikan komentar yang baik terhadap pengarang bahkan pengarang pun menuai pujian dari tiga kritikus yang hadir. Pujian tidak hanya disampaikan oleh kritikus, banyak dari mahasiswa dan dosen yang membuat esai sebagai bentuk apresiasi terhadap karya seorang sastrawan kelahiran Salatiga, 15 September 1964. Merasa diistimewakan dalam kemeriahan acara Bulan Bahasa ini, Triyanto Triwikromo hampir atau mungkin meneteskan air mata. Ia mengaku bahwa selama ia menghadiri acara di luar negeri tak merasa sedikit pun rasa sedih karena terharu, tetapi kali ini ia sampai tak bisa mengungkapkan sepatah atau dua patah kalimat, karena terlalu terharu.
Panggung yang ditata sangat simpel dan menarik dengan diberikan dua sisi cermin menambah rasa ingin tahu kelanjutan ceritanya. Di atas panggung terdapat pigura kayu yang bergantungan serta tulisan MMT yang terpasang di depan layar. Pertunjukan dari Biscuittime menambah syahdu suasana dalam Balairung. Pembacaan salah satu karya Triyanto Triwikromo yang di baca oleh mahasiswa yang mengikuti Teater Gema menjadikan suasana semakin mencekam akibat suara mereka yang sangat lantang. Penampilan penghibur acara tidak hanya mahasiswa yang berasal dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni melainkan dari fakultas lain seperti mahasiswa PGSD.
Triyanto Triwikromo merupakan lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP PGRI Semarang.Sebelum sebagai seorang sastrawan beliau pernah bekerja sebagai guru dan pekerja kasar di diskotik. Di samping bekerja sebagai redaktur sastra di harian Suara merdeka Semarang, dia juga menulis cerpen di Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Suara Pembaharuan, Matra, Bernas, Jawa Pos, Pelita, Suara Merdeka, dan Republika. Selain sebagai seorang penulis, dia kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra. Antara lain menjadi pembicara dalam “Pertemuan Teater Indonesia 1998” di Yogyakarta, mengikuti “Pertemuan Sastrawan Indonesia 1997” di Padang, dan menjadi aktivis Gerakan Revitalisasi Sastra Perdalaman, (badanbahasa.kemendikbud.go.id).
Seringnya kedatangan tamu seorang sastrawan dan acara menyangkut sastra, membuat mahasiswa termotivasi untuk belajar bersastra. Banyak kampus-kampus di luar sana yang ikut termotivasi dalam hadirnya sosok penting dalam dunia sastrawan. Tidak hanya itu, dosen pun termotivasi pula untuk memberikan tugas kepada mahasiswanya menyangkut perhelatan Akbar kemarin. Jika kegiatan tersebut rutin dilakukan maka semakin luas pula wawasan mahasiswa dalam bersastra.





Membalas Surat untuk Dosen Penulisan Media Massa

Nama : Anantika Prihatani
NPM : 15410228
Kelas : 3E

Selamat pagi, dosen Penulisan Media Massa yang rajin memberikan tugas.
Bagaimana kabar bapak beserta kawan-kawan sastrawan? Semoga tidak seburuk saya hari ini yang memiliki banyak rencana tak terealisasikan. Terkejut, saya sama sekali tidak terkejut dengan kehadiran surat bapak ditengah-tengah keriuhan kelas. Mungkin ada beberapa teman yang sedikit terkejut dengan datangnya surat misterius ini. Dan tak sedikit pula yang merinding melihatnya. Hadir tidaknya bapak dalam perkuliahan tak ada bedanya. Tetap saja ada tugas yang bapak berikan. Saya tahu, mungkin bapak berpikir bahwa kita senang jika bapak tidak hadir dalam forum yang paling mulia ini.
Kata “menyesal” yang bapak ucapkan sedikit gatal ditelinga saya. Bagaimana mungkin bapak memilih hadir di perkuliahan yang setiap hari membuat kesal bapak karena tak ada yang mau berargumentasi dibandingkan dengan berkumpul dalam forum yang paling termulia bersama teman-teman sastrawan se Indonesia.
Terima kasih telah mengingatkan saya untuk berusaha membahagiakan diri walau itu hanyalah sebuah pencitraan belaka. Apa dasar bapak dalam menghitung tidak hadirnya perkuliahan yang dituliskan satu Minggu? Jelas-jelas hanyalah tertulis 18-20 Oktober 2016, berarti hanya 3 hari bapak menghadiri acara tersebut. Saya baru ingat jika perjalanan menggunakan pesawat sungguh memakan waktu hingga totalnya satu Minggu. Setelah saya berpikir panjang, mengapa bapak bisa mengatakan naik pesawat di stasiun, akhirnya saya menemukan jawabannya. Mungkin bapak berharap atau dijanjikan naik pesawat tetapi hanya mampu membeli tiket kereta api. Atau dalam imajinasi bapak, pesawat berpindah tempat di stasiun.
Bapak pasti masih mengira bahwa kami masih sering makan Indomie, tuduhan itu salah. Zaman sekarang tidak ada lagi mahasiswa yang lebih makan Indomie dibandingkan dengan nasi rames yang hanya tiga ribu. Jika masih ada, pastilah hanya untuk mengganjal lapar.
Jelas sekali terlihat sikap mahasiswa yang pandai menutup-nutupi segala kekurangan dan mengurangi segala kelebihan sehingga terlihat cukup. Yang pertama, tidak ada pengaruhnya sedikit pun jika bapak tinggalkan semacam ini. Yang kedua, semoga kepergian bapak dapat membantu terwujudnya keinginan untuk menggugah pikiran mahasiswa dalam dunia baca dan dunia menulis.
Sesungguhnya malas sekali menjawab pertanyaan bapak. Tidak ada orang yang tidak suka membaca, hanya saja rasa malas yang sering melanda. Entah bagaimana rasa malas itu datang. Keinginan seseorang untuk membaca tidak dapat dipaksakan begitu saja. Banyaknya yang hanya suka membaca buku, artikel, cerpen, puisi atau yang hanya suka membaca novel seperti saya. Pada awalnya saya tidak suka dengan membaca tetapi dengan melihat kebiasaan seseorang yang sering kita lihat lama-lama saya jadi ingin melakukannya. Orang yang saya maksudkan adalah mahasiswa semester 7 prodi PBSI tepatnya yang setiap malam tidur di samping saya. Ialah yang mendorong saya untuk terus membaca. Tanpa disadari kebiasaannya yang sering membaca novel sebelum tidur pun saya tirukan sehingga ada kemauan untuk membaca hingga membeli novel sendiri. Jadi dapat disimpulkan bahwa setiap keinginan seseorang untuk membaca bergantung pada isi buku dan adanya motivasi seseorang untuk terus membaca.
Malas juga tidak hanya pada membaca, dalam mengutarakan gagasan atau argumentasi pun bisa. Semua mahasiswa pasti memiliki unek-unek untuk dibicarakan di depan kelas. Hanya saja banyak yang tidak percaya diri dengan jawabannya sendiri. Sekarang bapak mulai memberlakukan sistem nilai untuk mahasiswa yang mau mengutarakan nilai, hal tersebut yang membuat tambah malas teman-teman terutama saya untuk berargumen di kelas. Bagaimana kita mau berpendapat jika mendapat nilai (-) saat jawaban itu menurut bapak salah, setidaknya tidak usah diberi nilai jika salah. Untuk apa susah-susah berpikir jika hasilnya (-). Nilai itu dapat memotivasi mahasiswa untuk berani mengutarakan gagasan atau ide yang mereka miliki. Sebaiknya bapak tinjau kembali sistem penilaian bapak selama ini. Dan tinjau ulang penilaian bapak terhadap kami sebelum menilai buruk sikap kami.
Maaf jika kata-kata saya menyinggung perasaan Bapak. Bukanya saya tidak mampu membeli koran bekas maupun baru. Jangankan buku bekas buku novel yang saya punya pun tidak ada yang saya beli selain di Gramedia. Bukannya kesombongan yang saya miliki, bukannya saya terlahir dengan begitu bijaksana, bukannya saya sudah punya masa depan yang sudah bisa diprediksi kehadirannya sejak saya belum lahir, bukannya masa depan warisan yang saya miliki, tetapi hanya sifat malas yang melanda untuk mengungkapkan argunen secara langsung di kelas.
Entah manusia macam apa saya ini yang tidak tahu tentang dirinya sendiri. Sampai saat ini belum dapat menemukan hal kecil yang paling kecil atau paling sederhana itu. Bagaimana dengan niatan untuk bertahan hidup? Setiap orang pasti memiliki tujuan hidup tertentu tapi pastilah tujuan hidup tersebut baik. Orang tua ialah alasan saya untuk bertahan hidup sampai sekarang. Beliaulah yang memberikan hidup di dalam tubuh ini. Orang tua lah yang membiayai pendidikan mulai dari PAUD yang manja luar biasa, TK yang sok dewasa, SD pun jaraknya cukup jauh dari rumah, SMP yang mencari perhatian, SMA yang menghabiskan uang untuk jajan, dan sekarang kuliah di luar kota yang membutuhkan biaya yang sangat besar. Mulai dari uang membayar indekos, biaya semesteran, uang makan, uang buku, uang bensin, dan uang uang yang lain. Semua yang saya lakukan selama ini hanya untuk satu alasan, membahagiakan orang tua. Saat kita mau melaksanakan apa yang diperintahkan, pasti orang tua kita sedikit bahagia, bagaimana jika kita melakukan dengan baik, orang tua pun akan merasa dirinya bahagia.
Tingkat kejenuhan mahasiswa dapat dilihat dari banyaknya tipe suara yang terdengar. Semakin banyak warna suara, semakin jenuhlah dosen itu mengajar. Tak ada mahasiswa yang tidak mau mendengarkan yang dosen mereka ajarkan, tapi ya ada yang mau pula jika dosen tersebut membosankan untuk didengar maupun dilihat. Membuat sebuah forum di dalam forum itu sangatlah biasa di negara ini. Mungkin ide bapak untuk membawa balon dan permen di dalam kelas, dapat memberikan warna tersendiri bagi mahasiswa yang mulai jenuh dengan dosen sebelumnya.
Baru sedikit buku yang saya baca, tidak sebanding dengan jumlah yang telah bapak baca. Hanya beberapa novel dan koran yang terbaca dalam satu Minggu. Selama kuliah ini baru 8 novel yang terbaca. Jika koran mungkin dapat dihitung dengan jari. Belum ada kesadaran untuk saya membaca koran, mungkin hanya lihat berita lewat detik.com sudah cukup bagi saya.
Saya akui jika saya tidak semenarik bapak, tidak selaku bapak, tidak sebercahaya bspak, tidak seperti bapak yang mudah menaklukkan bermacam lawan jenis. Karena saya tahu setiap orang memiliki sifat yang berbeda sehingga tujuan-tujuan yang bapak minta pun berbeda.
Mungkin ini saja yang dapat saya sampaikan kepada bapak untuk bisa memahami diri saya lebih jauh. Terima kasih selalu mengingatkan untuk berpura-pura bahagia. Saya minta maaf sebesar-besarnya kepada bapak selaku dosen Penulisan Media Massa atas ucapan atau perkataan yang menyinggung perasaan bapak. Semoga amal ibadah bapak dibalas yang setimpaloleh Allah SWT, amin.


Tanggapan Esai Yosy "Pementasan Jaka Tarub dan Balada Sumarah"

Nama : Anantika Prihatani
NPM : 15410228
Kelas : 3E
PEMENTASAN JAKA TARUB DAN BALADA SUMARAH JARANG DIPENTASKAN
Esai Yosy Esta Pratika yang berjudul “Pementasan Jaka Tarub dan Balada Sumarah” sangat menarik perhatian. Sebuah tulisan yang terinspirasi dari sebuah pementasan drama di Universitas PGRI Semarang. Pada era modern ini tak banyak yang melakukan sebuah pementasan drama bahkan mengangkat cerita lama seperti Jaka Tarub. Pada tulisannya, Yosy mengatakan bahwa menonton drama ini merupakan sebuah tugas. Kesadaran masyarakat Indonesia dalam mengapresiasi karya seni terutama drama sangatlah minim jika dibandingkan dengan sinetron, terbukti bahwa tanpa adanya tugas mungkin Yosy bahkan teman-temannya tidak akan menulis esai tentang drama tersebut. Mengapresiasi sebuah karya seni tidak harus dengan membuat esai, dengan melihat secara langsung dan memahaminya saya rasa sudah cukup untuk mengapresiasikan karya seni. Dengan harga tiket masuk yang cukup murah untuk sebuah pementasan drama masih dirasa mahal bagi mereka yang tidak tahu apa arti seni.
Cerita Jaka Tarub yang sering didengar oleh telinga kita membuat aneh jika ada yang kurang atau tidak pas seperti halnya dengan sayur tanpa garam. Dengan mengurangi sedikit adegan dalam cerita untuk mengefektifkan waktu atau durasi yang terlalu panjang juga dapat membuat jenuh seseorang yang melihatnya, membuat versi lain juga harus dilakukan secara halus tanpa mengurangi inti dari cerita ini. Sependapat dengan Yosy, bahwa akhir-akhir ini banyak sekali seniman yang mengangkat cerita Jawa yang hampir tidak lagi dipentaskan. Dengan mengangkat cerita daerah, secara tidak langsung telah ikut andil dalam melestarikan budaya seni daerah. Tidak hanya mengangkat seni daerah, pementasan pun dapat menarik perhatian masyarakat lokal maupun mancanegara untuk melihatnya, dengan begitu seni daerah dapat dikenal di seluruh Indonesia dan bahkan seluruh dunia.
Sebuah intermezzo yang ada dalam sebuah drama sangatlah diperlukan untuk mencegah kejenuhan yang dialami penonton. Baik buruknya sebuah pementasan dapat dilihat dari tingkat kejenuhan penontonnya, jika banyak penonton yang mengantuk dapat disimpulkan bahwa pementasan tersebut buruk, sebaliknya jika penonton merasa antusias berarti pementasan itu sangatlah baik. Intermezzo sebaiknya tidak menyangkut dari isi cerita karena hal itu juga dapat membuat jenuh penonton. Komedi merupakan hal tepat yang dapat diangkat untuk mengisi kekosongan pada drama yang biasanya digunakan untuk menggantikan kata “berapa tahun kemudian”. Dalam pemilihan pemain drama pun harus dilakukan secara selektif, jika hal tersebut tidak diindahkan maka cerita akan menjadi monoton. Meskipun telah tertulis dalam skrip, pemain harus menghayati dialognya tanpa menghafal sehingga jika terdapat kejadian di luar skrip pemain akan secara natural menutupinya seperti yang ada pada kejadian jatuhnya bidadari di tangga. Properti dalam drama mampu menunjang proses naturalisasi cerita, sehingga drama yang disajikan terlihat seperti kejadian yang sebenarnya. Penempatannya harus diletakan sedemikian rupa agar penonton merasa berada dalam cerita tersebut, tetapi apabila properti diletakkan ditempat yang salah akan terlihat jelas bahwa drama tersebut hanya sekadar pementasan belaka. Sebuah aksesoris untuk para pemain drama harus disesuaikan dengan isi cerita, jika cerita itu bersifat modern tidak ada salahnya jika mengenakan kostum era modern, atau sebaliknya jika cerita yang bersifat tempo dulu sebaiknya mengenakan kostum yang sesuai. Riasan sangat penting untuk menunjang penampilan mereka, seperti bidadari yang mengenakan riasan yang cukup banyak dibandingkan pemain lainnya.
Monolog Balada Sumarah
Masyarakat Indonesia sebagian besar merupakan masyarakat penikmat dibandingkan dengan pelaku seni. Tak banyak yang tahu apa arti seni yang sesungguhnya, mereka menganggap seni sebagai kegiatan yang hanya dinikmati anak muda yang cenderung “nakal” karena mereka hanya melihat dari penampilan luarnya saja. Banyaknya seniman lokal Indonesia yang sebagian besar tumbuh di sekitar kita, hal itu menunjukkan bahwa Indonesia dapat dikatakan sebagai negara yang memiliki jiwa seni yang tinggi.
Terdapat beberapa macam seni peran atau drama seperti monolog. Monolog menurut KBBI merupakan adegan sandiwara dengan pelaku tunggal yang membawakan percakapan seorang diri. Seseorang yang terlatih untuk mengikuti drama monolog pasti dapat dilihat dari cara mereka berbicara, tidak mudah melakukan monolog kadang sering disebut orang gila saat berlatih berbicara sendiri. Suara lantang dengan berbagai macam jenis , emosi yang harus dikontrol, pendalaman beberapa karakter itu semua hanyalah sebagian kecil dari bermain monolog. Monolog jarang sekali dilakukan oleh orang awam, mungkin hanya mahasiswa atau pemuda yang berkecimpung diseni drama, bahkan tak sedikit yang belum pernah melihat adegan atau pementasan monolog.
Monolog Balada Sumarah yang dimainkan oleh mahasiswi semester 7 program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini menuai banyak pujian dengan seabreg penghargaan yang ia miliki. Monolog yang ia bawakan dengan judul Balada Sumarah mendapat peringkat pertama ditingkat Jawa Tengah, hal ini membuktikan bahwa dengan berlatih dan usaha yang gigih kemenangan dapat diraih dengan mudah. Cerita yang mengangkat kesengsaraan seorang TKW yang dihina dan dicampakkan oleh majikannya, tidak hanya itu gunjingan dari dalam negeri pun ia dapatkan akibat perbuatan sepele ayahnya yang mengirim gula di koperasi PKI. Negeri yang aneh saat itu, hanya datang ke tempat PKI saja sudah dianggap sebagai orang PKI bagaimana jika itu benar-benar orang PKI, akan dikubur hidup-hidup mungkin. Sumarah yang sangat pandai saat sekolah membuatnya gila saat ilmu yang ia dapatkan tidak berguna sama sekali, perjuangannya untuk hidup layak di negeri orang pun telah sia-sia, perkosaan yang didapatnya dari sang majikan membuatnya geram. Tanpa berpikir panjang lagi ia membunuh majikannya dan ia pun dihukum mati atas keinginannya dengan hati yang senang.
Benar dengan yang dikatakan oleh Yosy, cerita ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandangan dengan pesan yang disampaikan oleh pemain. Pemilihan properti yang sangat menarik dan simpel dapat mempengaruhi isi cerita, baik dengan sedikit properti ataupun banyak, sehingga penonton dapat terpusat diisi cerita yang pemain sampaikan daripada melihat properti yang tidak penting.

Esai "JAKA TARUB DAN MONOLOG BALADA SUMARAH "

Nama : Anantika Prihatani
NPM : 15410228
Kelas : 3E
JAKA TARUB DAN MONOLOG BALADA SUMARAH
Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Jaka Tarub. Seorang anak kampung yang bermimpi menikah dengan bidadari. Selasa, 4 Oktober 2016 Teater Gema UPGRIS mengadakan suatu pementasan drama berjudul Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah. Sebuah pertunjukan yang sangat luar biasa bagi setiap mahasiswa terutama pada mahasiswa PBSI.
Drama Jaka Tarub yang dimainkan menggunakan alur campuran, pada bagian awal mereka menceritakan Jaka Tarub sebagai sosok ayah yang sangat menyayangi anaknya, Nawangsih. Drama Jaka Tarub dikemas secara apik dan menarik untuk dilihat. Singkat cerita, Jaka Tarub remaja sering mengigau tentang ibunya, kata sang ibu suatu hari ia akan menikah dengan seorang bidadari. Sahabat yang selalu ada untuknya datang untuk memberikan semangat. Tak berapa lama, sekelompok bidadari turun dari langit untuk mandi ke sungai. Jaka Tarub yang berada di balik batu untuk mengintipnya merasa sangat senang, sifat liciknya pun berhasil menjadikan salah satu dari bidadari diatas sebagai istrinya. Dengan mengambil salah satu selendang milik mereka, Jaka berpura-pura tidak mengetahui dan menemui bidadari tersebut. Saat Jaka Tarub mengintip tadi, ia mendengar bahwa jika seseorang laki-laki yang datang membawa baju akan dijadikan seorang suami dan jika itu perempuan akan dijadikan sebagai saudaranya. Dengan modal baju ibunya, ia dapat mempersunting seorang bidadari. Ternyata keinginan sang ibu tercapai, Jaka Tarub menikah dengan seorang bidadari cantik bernama Nawang Wulan. Tak lama menikah, mereka dikaruniai seorang putri cantik bernama Nawangsih. Dalam menunggu jeda pertunjukan Jaka Tarub, penulis skenario menambahkan dua anak laki-laki yang berperan sebagai Tomo dan Topo untuk melakukan dialog interaktif kepada para penonton. Diceritakan, mereka adalah seorang calon lurah, sebagai lurah mereka harus berpengetahuan luas dan mendalam.Tomo dan Topo sama-sama berbadan besar sehingga membuat penonton tertawa melihatnya. Materi yang mereka sampaikan sangatlah natural bahkan mereka bisa disebut sebagai kakak adik kembar sifat, sama-sama berbadan besar dan memiliki pengetahuan yang kurang. Kembali ke cerita Jaka Tarub, Nawang Wulan pergi untuk mencuci baju di sungai, ia berpesan kepada suaminya agar tidak membuka tutup penanak nasi tetapi Jaka Tarub tidak mengindahkan peringatan istrinya, ia tetap saja membuka. Alangkah terkejutnya ia saat membuka tutup penanak nasi, disana hanya terdapat sebatang padi untuk dijadikan sebagai nasi yang cukup untuk mereka makan sehari. Selesai mencuci baju, Nawang Wulan kembali ke rumahnya. Selesai membereskan pakaiannya Jaka Tarub bertanya kepada istrinya, perihal yang ia lihat tadi, Nawang Wulan sangat marah akibat dari perbuatan suaminya yang membuat kesaktiannya hilang. Jaka Tarub terus meminta maaf atas kesalahan dan kecerobohannya. Suasana semakin tambah mencekam pada saat Nawang Wulan menemukan selendangnya di bawah lumbung padi, Nawang Wulan marah sejadi-jadinya, ia memutuskan untuk kembali ke kayangan karena sudah tidak sanggup tinggal bersama Jaka Tarub yang telah ingkar dan pencuri. Jaka Tarub terus meminta Nawang Wulan untuk tetap tinggal bersamanya dengan alasan putrinya masih terlalu kecil untuk ditinggalkan oleh ibu. Nawang Wulan berjanji akan tetap melakukan kewajiban-kewajiban dengan satu syarat yaitu membawa Nawangsih ke sungai pada saat bulan purnama tanpa ditemani ayahnya. Cerita kembali ke awal yaitu saat Nawangsih telah dewasa, Jaka Tarub belum siap jika harus berpisah dengan anak satu-satunya. Itu lah sedikit cuplikan cerita dari drama Jaka Tarub, sebuah cerita yang patut diceritakan kepada anak-anak dengan pengawasan orang tua. Kita dapat mengambil pesan dari cerita ini, bahwasanya sesuatu hal mustahil dapat menjadi kenyataan dan indah manakala kita mendapatkannya dengan baik dan menjaganya dengan baik pula.
Monolog balada Sumarah, yang dimainkan oleh mahasiswi semester 7 prodi PBSI ini sangatlah indah, patut saja ia menjuarai lomba monolog di tingkat Jawa Tengah. Monolog ini menceritakan tentang pahitnya kehidupan seorang TKW. Sebuah tema yang jarang sekali dibuat untuk monolog. Singkat cerita, ada seorang wanita yang bekerja di negeri orang bisa disebut pahlawan devisa ialah Sumarah bin Sulaiman. Di negernya sendiri ia dihujat karena ayahnya bekerja di tempat di mana itu milik PKI, semua tetangga dan negeri memberikan cap keluarga PKI. Ia tidak mendapatkan surat keterangan bersih dari daerahnya dan memutuskan untuk pergi ke luar negeri untuk mendapatkan uang untuk membuka mata orang-orang di negerinya. Tapi apalah daya, ia hanya seseorang lulusan SMA meskipun nilainya baik, rumus matematika yang selama ini menjadi makanannya sehari-hari kini menjadi rumus mengepel, menyetrika, menyapu dan semua hal yang dikerjakannya sebagai seorang “babu”. Meskipun majikannya menggunakan kain sorban, dan bercadar, tidak memungkinkan untuk tidak menyiksanya. Ia dipukul, diseret bahkan diperkosa oleh majikannya. Kesabaran Sumarah diuji hingga demikian. Hujatan di negeri sendiri caci maki di negeri orang, tak ada lagi yang bisa menerima diri Sumarah. Dengan keberanian dan pikiran yang waras ia membunuh majikannya, ia geram melihat tingkah laku majikannya yang mempekerjakan Sumarah bagaikan hewan. Dalam pengadilan, ia tidak perlu pengacara, penasehat hukum atau pembelaan. Ia yang tidak pernah salah selama ini selalu disalahkan, dan sekarang saatnya ia melakukan kesalahan yang benar-benar kesalahannya. Ia senang dengan keputusannya untuk hukuman mati yang memvonisnya. Kita dapat mengambil hikmah dari monologan di atas, bahwa sedikit kesalahan yang dibuat akan berdampak dalam kehidupan selanjutnya.
Kedua drama tersebut mengingatkan kembali bawah tidak hanya film atau sinetron yang patut diapresiasi, drama kecil seperti ini pun bisa. Tidak mudah mengemas drama dan monolog hingga tidak membosankan penonton. Akting pemain dan skenario pun harus sejalan, jika mereka tak sejalan, tidak akan muncul drama seperti ini. Penonton yang kondusif juga mendukung jalannya pementasan drama ini. Dengan adanya pementasan drama seperti ini semoga dapat menginspirasi penonton untuk melestarikannya juga terutama mengangkat cerita daerah. Semoga.

Tanggapan esai "Seni yang Tumbuh di Jalanan"

Nama: Anantika Prihatani
NPM: 15410228
Kelas: 3E


Tanggapan terhadap esai yang ditulis oleh Udji Kayang Aditya Supriyanto. Sebuah tanggapan yang menarik untuk diulas. Ada berbagai macam seni di Indonesia, tidak hanya tarian, nyanyian, pakaian adat, tetapi ada juga seni jalanan. Setia Naka Andrian menulis esai tentang pertunjukan seni di daerahnya, berbeda dengan Udji Kayang Aditya Supriyanto yang menulis esai tentang seni jalanan. Keduanya sama-sama membahas seni. Seni sangat penting untuk menjadi ciri khas dari masing-masing daerah. Jika seluruh daerah di Indonesia mengutamakan seni, tidak lama lagi Indonesia akan dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi seni.


Komentar esai "Memaknai Guru sebagai Pembelajar"

Nama: Anantika Prihatani
NPM: 15410228
Kelas: 3E



“Memaknai Guru sebagai Pembelajar” esai yang ditulis Usman Roin, mahasiswa magister PAI UIN Walisongo Semarang. Saya sependapat dengan bebeliau. Banyaknya tenaga pendidik atau guru yang masih menggunakan sistem pembelajaran yang kuno seperti berceramah. Tidak saatnya lagi siswa hanya duduk diam mencatat materi, tetapi siswa juga harus aktif dalam kegiatan belajar. Pendidikan karakter baru bermunculan di Indonesia, jika seorang guru hanya memberikan materi dapat dilihat dari hasil didikannya, berbeda dengan guru yang menanamkan pendidikan karakter di dalamnya. Seorang guru profesional harus terus meningkatkan mutu pendidikan, dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, hal mudah yang dapat dilakukan dengan mengikuti seminar atau workshop. Memperbanyak wawasan juga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran seperti membaca buku atau artikel. Dengan demikian, Guru tidak hanya membuat pandai siswanya tetapi dengan tambahan karakter yang ditanamkan.

Komentar esai "Membangun Kota dengan Seni"

Nama: Anantika Prihatani
NPM: 15410228
Kelas: 3E
Sebuah esai dibuat untuk menyadarkan masyarakat dan pemerintah daerah Kendal dalam melestarikan seni yang ditulis oleh seorang penyair kelahiran Kendal. Esai tersebut dapat menginspirasi saya untuk menulis hal yang sama pada daerah tempat tinggal saya. Sebagai masyarakat yang tinggal di daerah tersebut, kita harus melestarikan seni dengan salah satu cara yaitu dengan membuat festival tahunan agar daerah kita dapat dikenal secara luas. Tetapi kita tidak bisa bergerak sendiri, pemerintah daerah harus ikut mendukung kegiatan tersebut. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kini sedang gencar-gencarnya mempromosikan Indonesia dengan slogan “Pesona Indonesia”. Sebuah kesempatan emas bagi kita untuk mempromosikan daerah kita. Penulisan esai adalah salah satu cara untuk mencolek pemerintah daerah dalam melihat saran atau keluhan masyarakat, karena tidak mudah untuk merealisasikan sebuah acara besar sendiri tanpa bantuan Pemerintah daerah.

Minggu, 24 April 2016

AUTOBIOGRAFI 2 ANANTIKA PRIHATANI

Nama  : Anantika Prihatani
NPM    : 15410228
Kelas   : 2E
Progdi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas PGRI Semarang
                           Autobiografi 2

              Sepasang muda-mudi bernama Kanan dan Tani Supadmi melangsungkan pernikahan pada tahun 1996 di Pati. Satu tahun kemudian tepatnya pada tanggal 22 Februari 1997 lahirlah buah cinta mereka di Boyolali yang bernama Anantika Prihatani yang mengandung beberapa gabungan nama yaitu Anan yang berasal dari nama Kanan, TIKA berasal dari gabungan TanI dan KAnan serta Pri berasal dari bulan sang putri lahir yaitu PebruaRi dan tambahan dari nama sang ibu, Tani.
              Tika adalah nama panggilan yang sering mereka ucapkan untuk memanggilku. Pertama kali bersekolah di TK Pembina pada umur tiga tahun sampai umur enam tahun. Pada tanggal 22 Juni 2001 lahirlah seorang pangeran kecil yang diberi nama Andhika Citra Sena, yang memiliki tanda lahir di punggungnnya. 
              Pada tahun 2003 ibu meninggal dunia akibat tumor otak yang bersarang di kepala ibu. Aku dan ayah sangat terpukul atas kehilangan ibu terlebih adik yang hanya mendapatkan dua tahun kasih sayang dari seorang ibu. Keadaan sangat kacau sehingga ayah membawa adik untuk tinggal bersama nenek di Boyolali, sedangkan aku bersama ayah tetap tinggal di Kudus.
               SD 1 Barongan tempatku melanjutkan pendidikan dari kelas satu sampai kelas enam. Masa kanak-kanak membuatku merasa iri dengan teman saat mereka diantar dan dijemput oleh orang tua terutama bersama ibu, sedangkan aku hanya diantar oleh ayah dan dijemput oleh supir langganan. Saat duduk di bangku kelas tiga, aku bertemu seorang wanita yang sekarang menjadi pengganti sosok ibu yang mendampingi ayah ku. Beliau bernama Tri Kurniawati yang bekerja sebagai guru kelas tiga di SD tempat ku menempuh pendidikan. Satu tahun kemudian lahirlah putri kecil yang bernama Atriska Rahma Pratidina, ia memiliki kulit lebih gelap dibandingkan kedua kakaknya. Kita tinggal di gubuk kecil di Desa Panjang Rt. 04/ Rw. 03 kecamatan Bae kabupaten Kudus.
              SMP 2 Kudus sekolah selanjutnya setelah lulus dari sekolah dasar, yang pada saat itu masih menggunakan titel RSBI dan mengharuskan ku mahir berbahasa Inggris. Di sana kita dapat menemukan teman-teman yang berbeda golongan yang dilihat dari ekonomi keluarga, karena sekolah tersebut cukup bergengsi dikalangan ekonomi menengah ke atas. 
              Selama tiga tahun aku menempuh pendidikan di SMA 2 Bae Kudus. Masa-masa SMA adalah masa terindah dikalangan anak remaja karena berakhirnya pendidikan formal wajib yang harus dijalankan. Disanalah aku menemukan empat sahabat yang selalu ada untuk ku yaitu Alifiana Tidarrani, M. Azmi Maulana, Idfi Oxza Prameswari, Na'imatus Solikhah. Mereka melanjutkan pendidikan di tempat yang berbeda, meskipun berbeda tempat, kita akan selalu berkomunikasi. 
               Melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi sangat diinginkan oleh seluruh orang terutama menjadi kebanggaan orang tua. Universitas PGRI Semarang menjadi salah satu pilihan untuk menambahkan ilmu. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia adalah program studi yang saya pilih, karena mempelajari bahasa ibu ini sangatlah sulit dan butuh konsentrasi. Di semester dua ini aku menemukan dua teman yang selalu membantu  yaitu Prananing Meisya dan Pipit Apriliana. Tak lupa kakak yang setiap malam berada di sampingku Dwi Rachmadani.


Sabtu, 09 April 2016

AUTOBIOGRAFI ANANTIKA PRIHATANI



Nama  : Anantika Prihatani
NPM   : 15410228
Kelas   : 1E
Progdi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas PGRI Semarang

AUTOBIOGRAFI

Nama saya Anantika Prihatani, biasa dipanggil Tika.Saya anak pertama dari 3 bersaudara yang lahir di Boyolali tepatnya di desa Kwiran kecamatan Banyudono pada tanggal 22 Februari 1997.Saya dibesarkan di Kudus.Tempat tinggal saya di desa Panjang RT04/RW03 Kecamatan Bae Kabupaten Kudus. Nama ayah saya Kanan yang lahir di kota Pati sebagai anak terakhir dari 8 bersaudara, beliau berprofesi sebagai polisi di POLSEK Mayong Jepara. Ayah saya seorang yang sangat disiplin waktu terutama saat solat dan sangat bijaksana dalam melakukan apapun.Nama ibu saya Tani Supadmi (Almh), ibu anak ke 2 dari 3 bersaudara.Ibu sangat pandai menari, terbukti saat ibu mengikuti beberapa kontes menari.
Tahun 2003 ibu saya meninggal dunia, ibu saya mengidap penyakit tumor otak sebesar bola tenis lapangan yang tidak memungkinkan untuk dioperasi.Penyakit ibu tidak diketahui oleh keluarga besar sampai ayah pun mengetahuinya saat tumor itu sudah mulai membesar, ibu sering mengeluhkan rasa sakit yang hebat dikepala sehingga membuat ibu merasakan bahwa kepalanya seperti akan pecah. Ibu meninggal di Boyolali tepatnya di Rumah Sakit Kandang Sapi, saat itu saya tidak tahu kalau ada banyak saudara yang berdatangan, saya mengira akan ada arisan keluarga tetapi tidak. Saat saya masuk kerumah, saya melihat semua orang menangis mengelilingi sebuah kotak besar berwarna putih dipenuhi bunga-bunga, ayah menggendongku untuk melihat isi kotak itu, aku melihat ibu tidur dengan nyenyak di kotak itu, saya diberitahu ayah kalau ibu telah meninggal, saya menangis sejadi-jadinya. Dengan memeluk erat tubuh saya, ayah mencoba menguatkan dirinya.Saat kotak itu digotong beberapa saudara, dengan sigap tante menggendong saya keluar rumah dan melakukan 3 kali putaran berjalan dibawah kotak besar berwarna putih itu.Pemakaman yang berlokasikan di Boyolali berjalan dengan lancar dipenuhi dengan pelayat yang ikut mengantarkan ibu ke peristirahatan terakhirnnya.
Seringkali saya memikirkan ibu, sedang apa beliau, dimana beliau, dan bersama siapa beliau sekarang. Bersama ayah dan adik, saya melewati tahun-tahun tanpa didampingi seorang ibu.Ibu yang selalu membuatkan sarapan untuk saya, makan siang kesukaan saya, dan makan bersama dengan ayah dan adik saya. Meskipun begitu, saya lebih beruntung dibandingkan dengan adik saya karena ia hanya menikmati kasih sayang seorang ibu kandung dalam waktu satu setengah tahun.Banyak orang diluar sana yang menyianyiakan ibu kandungnya, mereka lebih beruntung dibandingkan dengan saya. Ikhlas adalah kata yang bisa saya ucapkan saat ditanyai seseorang tentang ibu, meskipun dalam hati menangis tetapi saya tidak akan menangis didepan semua orang karena itu janji saya kepada ibu.
Di tahun 2007 saya memiliki ibu sambung bernama Tri Kurniawati.Pertama kali aku mengenalnya saat beliau menjadi guru SD saya di kelas 3.Berawal dari les di rumah beliau, sampai tidur di rumah beliau pernah saya jalani.Saya memanggilnya dengan sebutan mama, beliau seorang yang sangat tegas terlihat dari caranya berbicara, mama mendidik saya untuk rajin belajar dan rajin membersihkan seluruh rumah.Banyak orang mengira kalau seorang ibu sambung itu suka menyiksa anak tirinya, semua itu tidak berlaku pada saya.Beruntung sekali saya mendapatkan ibu sambung yang baik serta dapat mendidik saya ke jalan yang benar, tidak lagi manja, suka kebersihan, dan tegas dalam bersikap. Saya memiliki 1 adik kandung laki-laki bernama Andhika Citra Sena, sekarang ia kelas 3 di SMP 5 Kudus. Adik saya yang satu ini sangat menyayangi hewan terlebih pada kelinci, burung, ayam serama, dan kambing. Saya juga memiliki 1 adik perempuan dari ibu yang berbeda, ia bernama       Atriska Rahma Pratidina, sekarang ia kelas 3 di SD 1 Barongan tempat yang sama dimana mama saya bekerja. Adik saya ini pandai sekali dalam membaca puisi, tetapi ia sangat penakut, ia selalu ikut jika ayah dan mama pergi. Meskipun ia tidak adik kandung saya, saya sangat menyayanginya seperti adik kandung saya sendiri. Mama dan ayah juga tidak membeda-bedakan anaknya terlebih memanjakan ke tiga anaknya.
Saya mulai sekolah pada umur 3 tahun karena pada saat itu saya sangat senang belajar. Saya sekolah di TK Pembina Perumnas Gerbang Harapan yang berlokasi di Perumnas Gerbang Harapan karena dulu sebelum saya mempunyai ibu sambung saya tinggal di Perumnas Gerbang Harapan, selanjutnya saya masuk di SDN 1 Barongan Kudus yang berlokasi di tengah kota Kudus. 6 tahun saya belajar di SD, kemudian saya melanjutkan di SMPN 2 Kudus yang saat itu masih menggunakan sistem RSBI. Pada tahun ajaran 2012/2013 saya belajar di SMAN 2 Bae Kudus, kenaikan kelas 2 saatnya menentukan jurusan, saya ditempatkan di jurusan IPA karena nilai IPA saya lebih baik dibandingkan dengan nilai IPS. Sejak kelas 1 SMA saya memiliki 4 sahabat bernama Rani yang sekarang melanjutkan kuliah di UNSOED prodi Agroteknologi, Oxza yang sekarang melanjutkan kuliah di UPGRIS prodi Pendidikan Matematika, Azmi yang sekarang melanjutkan kuliah di UNNES prodi Pendidikan Seni Rupa, dan Na’ima yang sekarang melanjutkan kuliah di UMK prodi Menejemen .Seluruh teman dan guru di SMA mengetahui persahabatan saya, tetapi saat ini saya berpisah dengan sahabat saya karena melanjutkan kuliah di Universitas yang berbeda.
Pada saat kelulusan saya memilih melanjutkan di Universitas PGRI Semarang dengan mengambil prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia karena saya merasa sangat tertantang mempelajari bahasa Indonesia. Saat SMA nilai bahasa asing saya lebih baik dibandingkan dengan bahasa Indonesia, maka dari itu saya mencoba mencari tahu letak kesalahan saya saat mengerjakan tugas bahas Indonesia. Memiliki teman baru seperti Prananing yang tinggal di Semarang membuat saya lebih bersemangat dalam belajar dan berorganisasi, ia selalu mendukung saya dalam melakukan apapun.Dalam kelas, saya menjadi seseorang yang mudah sekali berinteraksi kepada teman-teman. Saat ini saya kos di jalan Hiri Raya nomor 4, saya memiliki teman-teman yang baik di kos seperti Nuri yang berasal dari Pati, Fitri yang berasal dari Pekalongan, Kak Windi yang berasal dari Batang, Kak Isfa, Kak Wiwid, Kak Eka yang berasal dari Pemalang dan masih banyak lagi. Mereka mudah sekali menerima keluarga baru, dan tidak membeda-bedakan status.
Cita-cita saya sebenarnya ingin menjadi seperti ayah, tetapi fisik saya yang tidak memungkinkan untuk mengikuti seleksi, jadi saya mengurungkan niat saya untuk menjadi seperti ayah. Menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia, tidak mudah menjadi seorang guru meski ia pandai sekalipun. Hobi saya adalah berenang, tetapi makan-makanan ringan yang lebih sering saya lakukan, hobi saya inilah yang membuat saya tidak bisa mengikuti seleksi.Dulu saya sangat kurus sehingga tetangga sekitar mengira saya tidak pernah diberi makan, tetapi saat saya gemuk seperti sekarang, banyak orang yang mengiginkan saya untuk menguruskan badan. Menguruskan badan tidaklah mudah, sudah beberapa cara saya lakukan mulai dari diet ketat sampai minum-minuman herbal, tetapi semua saya lakukan belum dengan tekad yang kuat karena orang-orang di sekitar saya yang belum bisa mendukung.











BIOGRAFI ANANTIKA PRIHATANI



Nama : Anantika Prihatani
Kelas  : I E
NPM  : 15410228
Progdi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas PGRI Semarang




BIOGRAFI

Namanya Anantika Prihatani, biasa dipanggil Tika. Dia anak pertama dari 3 bersaudara yang lahir di Boyolali tepatnya di desa Kwiran kecamatan Banyudono pada tanggal 22 Februari 1997. Tika dibesarkan di Kudus. Tempat tinggalnya saat ini di desa Panjang RT04/RW03 Kecamatan Bae Kabupaten Kudus. Nama ayahnya Kanan yang lahir di kota Pati sebagai anak terakhir dari 8 bersaudara, beliau berprofesi sebagai polisi di POLSEK Dawe Kudus. Ayahnya seorang yang sangat disiplin waktu terutama saat solat dan sangat bijaksana dalam melakukan apapun. Nama ibunya Tani Supadmi (Almh), beliau anak ke 2 dari 3 bersaudara. Ibu sangat pandai menari, terbukti saat beliau mengikuti beberapa kontes menari.
Tahun 2003 Tika kehilangan ibunda tercintanya untuk selama-lamanya, ibunya mengidap penyakit tumor otak sebesar bola tenis lapangan yang tidak memungkinkan untuk dioperasi. Penyakit beliau tidak diketahui oleh keluarga besar sampai ayahnya pun mengetahuinya saat tumor itu sudah mulai membesar, beliau sering mengeluhkan rasa sakit yang hebat dikepala sehingga membuatnya merasakan bahwa kepala beliau seperti akan pecah. Ibunya meninggal di Boyolali tepatnya di Rumah Sakit Kandang Sapi, saat itu Tika tidak tahu kalau ada banyak saudara yang berdatangan, ia mengira akan ada arisan keluarga tetapi tidak. Saat Tika masuk ke rumah, ia melihat semua orang menangis mengelilingi sebuah kotak besar berwarna putih dipenuhi bunga-bunga, ayahnya menggendong Tika untuk melihat isi kotak itu, Tika melihat ibunya tidur dengan nyenyak di kotak itu, saat diberitahu sang ayah kalau ibunya telah meninggal, ia menangis sejadi-jadinya. Dengan memeluk erat tubuh anaknya, beliau mencoba menguatkan dirinya. Saat kotak itu digotong beberapa saudara, dengan sigap tante menggendong Tika keluar rumah dan melakukan 3 kali putaran berjalan dibawah kotak besar berwarna putih itu sebagai penghormatan terakhir yang dilakukan oleh keluarganya. Pemakaman yang berlokasikan di Boyolali berjalan dengan lancar dipenuhi dengan pelayat yang ikut mengantarkan sang ibunda ke peristirahatan terakhirnnya.
Seringkali Tika memikirkan ibunya, sedang apa beliau, dimana beliau, dan bersama siapa beliau sekarang. Bersama ayahhanda dan adiknya, ia melewati tahun-tahun tanpa didampingi seorang ibu. Ibu yang selalu membuatkan sarapan untuknya, makan siang kesukaannya, dan makan bersama dengan ayah dan adiknya. Meskipun begitu, ia merasa  lebih beruntung dibandingkan dengan adiknya karena ia hanya menikmati kasih sayang seorang ibu kandung dalam waktu satu setengah tahun saja. Banyak orang diluar sana yang menyianyiakan ibu kandungnya, mereka lebih beruntung dibandingkan dengan Tika. Ikhlas adalah kata yang mampu ia ucapkan saat seseorang bertanya tentang sang ibunda, meskipun dalam hati ia menangis tetapi ia tidak akan menangis didepan semua orang karena itu janjinya kepada ibunda tercinta.
Di tahun 2007 Tika memiliki ibu sambung bernama Tri Kurniawati. Pertama kali ia mengenalnya saat beliau menjadi guru SD kelas 3 di sekolahnya. Berawal dari les di rumah beliau, sampai tidur di rumah beliau pernah ia lakukan. Tika memanggilnya dengan sebutan mama, beliau seorang yang sangat tegas terlihat dari caranya berbicara, beliau  mendidik Tika untuk rajin belajar dan rajin membersihkan seluruh rumah. Banyak orang mengira kalau seorang ibu sambung itu suka menyiksa anak tirinya, semua itu tidak berlaku pada Tika. Beruntung sekali ia mendapatkan ibu sambung  yang baik serta dapat mendidiknya dalam hal kebaikan, tidak lagi manja, suka kebersihan, dan tegas dalam bersikap. Tika memiliki 1 adik kandung laki-laki bernama Andhika Citra Sena, sekarang ia kelas 3 di SMP 5 Kudus. Adiknya yang satu ini sangat menyayangi hewan terlebih pada kelinci, burung, ayam serama, dan kambing. Tika juga memiliki 1 adik perempuan yang lahir dari ibu sambungnya, ia bernama Atriska Rahma Pratidina, sekarang ia kelas 3 di SD 1 Barongan tempat yang dengan tempat bekerja sang mama. Adik saya ini pandai sekali dalam membaca puisi, tetapi ia sangat penakut, ia selalu ikut jika ayah dan mamanya pergi. Meskipun ia tidak adik kandungnya, Tika sangat menyayanginya seperti adik kandungnya sendiri. Mama dan ayahnya juga tidak membeda-bedakan anaknya terlebih memanjakan ketiga anaknya.
Tika mulai sekolah pada umur 3 tahun karena pada saat itu ia sangat senang belajar. Tika sekolah di TK Pembina Perumnas Gerbang Harapan yang berlokasi di Perumnas Gerbang Harapan karena dulu sebelum Tika mempunyai ibu sambung ia tinggal di Perumnas Gerbang Harapan, selanjutnya ia masuk di SDN 1 Barongan Kudus yang berlokasi di tengah kota Kudus. 6 tahun Tika belajar di SD, kemudian ia melanjutkan di SMPN 2 Kudus yang saat itu masih menggunakan sistem RSBI. Pada tahun ajaran 2012/2013 ia belajar di SMAN 2 Bae Kudus, kenaikan kelas 2 saatnya menentukan jurusan, Tika ditempatkan di jurusan IPA karena nilai IPAnya lebih baik dibandingkan dengan nilai IPSnya. Sejak kelas 1 SMA Tika memiliki 4 sahabat bernama Rani yang sekarang melanjutkan kuliah di UNSOED prodi Agroteknologi, Oxza yang sekarang melanjutkan kuliah di UPGRIS prodi Pendidikan Matematika, Azmi yang sekarang melanjutkan kuliah di UNNES prodi Pendidikan Seni Rupa, dan Na’ima yang sekarang melanjutkan kuliah di UMK prodi Menejemen. Seluruh teman dan guru di SMA mengetahui persahabatannya, tetapi saat ini ia berpisah dengan sahabatnya karena melanjutkan kuliah di Universitas yang berbeda, meskipun begitu setiap Minggu mereka menyempatkan bertemu untuk melepas rasa rindunya.
Pada saat kelulusan Tika memilih melanjutkan di Universitas PGRI Semarang dengan mengambil prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia karena ia merasa sangat tertantang mempelajari bahasa Indonesia. Saat SMA nilai bahasa asingnya lebih baik dibandingkan dengan bahasa Indonesia, maka dari itu ia mencoba mencari tahu letak kesalahannya saat memahami bahasa Indonesia. Memiliki teman baru seperti Prananing yang tinggal di Semarang membuat Tika lebih bersemangat dalam belajar dan berorganisasi, ia selalu mendukungnya dalam melakukan apapun. Dalam kelas, Tika menjadi seseorang yang mudah sekali berinteraksi kepada teman-teman. Saat ini ia kos di jalan Hiri Raya nomor 4, ia memiliki teman-teman yang baik di kos seperti Nuri yang berasal dari Pati, Fitri yang berasal dari Pekalongan, Kak Windi yang berasal dari Batang, Kak Isfa, Kak Wiwid, Kak Eka yang berasal dari Pemalang dan masih banyak lagi. Mereka mudah sekali menerima keluarga baru, dan tidak membeda-bedakan status.
Cita-cita Tika sebenarnya ingin menjadi seperti sang ayah, tetapi fisiknya yang tidak memungkinkan untuk mengikuti seleksi, jadi ia mengurungkan niatnya untuk menjadi seperti ayahnya. Baginya menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia, tidak mudah menjadi seorang guru meski ia pandai sekalipun. Hobinya adalah berenang, tetapi makan-makanan ringan yang lebih sering ia lakukan, hobi inilah yang membuatnya tidak bisa mengikuti seleksi. Dulu Tika sangat kurus sehingga tetangga sekitar mengiranya tidak pernah diberi makan, tetapi saat ia gemuk seperti sekarang, banyak orang yang mengiginkannya untuk menguruskan badan. Menguruskan badan tidaklah mudah, sudah beberapa cara Tika lakukan mulai dari diet ketat sampai minum-minuman herbal, tetapi semua ia lakukan belum dengan tekad yang kuat karena orang-orang di sekitarnya yang belum dapat mendukung.