Selasa, 20 Desember 2016

Tanggapan Esai Yosy "Pementasan Jaka Tarub dan Balada Sumarah"

Nama : Anantika Prihatani
NPM : 15410228
Kelas : 3E
PEMENTASAN JAKA TARUB DAN BALADA SUMARAH JARANG DIPENTASKAN
Esai Yosy Esta Pratika yang berjudul “Pementasan Jaka Tarub dan Balada Sumarah” sangat menarik perhatian. Sebuah tulisan yang terinspirasi dari sebuah pementasan drama di Universitas PGRI Semarang. Pada era modern ini tak banyak yang melakukan sebuah pementasan drama bahkan mengangkat cerita lama seperti Jaka Tarub. Pada tulisannya, Yosy mengatakan bahwa menonton drama ini merupakan sebuah tugas. Kesadaran masyarakat Indonesia dalam mengapresiasi karya seni terutama drama sangatlah minim jika dibandingkan dengan sinetron, terbukti bahwa tanpa adanya tugas mungkin Yosy bahkan teman-temannya tidak akan menulis esai tentang drama tersebut. Mengapresiasi sebuah karya seni tidak harus dengan membuat esai, dengan melihat secara langsung dan memahaminya saya rasa sudah cukup untuk mengapresiasikan karya seni. Dengan harga tiket masuk yang cukup murah untuk sebuah pementasan drama masih dirasa mahal bagi mereka yang tidak tahu apa arti seni.
Cerita Jaka Tarub yang sering didengar oleh telinga kita membuat aneh jika ada yang kurang atau tidak pas seperti halnya dengan sayur tanpa garam. Dengan mengurangi sedikit adegan dalam cerita untuk mengefektifkan waktu atau durasi yang terlalu panjang juga dapat membuat jenuh seseorang yang melihatnya, membuat versi lain juga harus dilakukan secara halus tanpa mengurangi inti dari cerita ini. Sependapat dengan Yosy, bahwa akhir-akhir ini banyak sekali seniman yang mengangkat cerita Jawa yang hampir tidak lagi dipentaskan. Dengan mengangkat cerita daerah, secara tidak langsung telah ikut andil dalam melestarikan budaya seni daerah. Tidak hanya mengangkat seni daerah, pementasan pun dapat menarik perhatian masyarakat lokal maupun mancanegara untuk melihatnya, dengan begitu seni daerah dapat dikenal di seluruh Indonesia dan bahkan seluruh dunia.
Sebuah intermezzo yang ada dalam sebuah drama sangatlah diperlukan untuk mencegah kejenuhan yang dialami penonton. Baik buruknya sebuah pementasan dapat dilihat dari tingkat kejenuhan penontonnya, jika banyak penonton yang mengantuk dapat disimpulkan bahwa pementasan tersebut buruk, sebaliknya jika penonton merasa antusias berarti pementasan itu sangatlah baik. Intermezzo sebaiknya tidak menyangkut dari isi cerita karena hal itu juga dapat membuat jenuh penonton. Komedi merupakan hal tepat yang dapat diangkat untuk mengisi kekosongan pada drama yang biasanya digunakan untuk menggantikan kata “berapa tahun kemudian”. Dalam pemilihan pemain drama pun harus dilakukan secara selektif, jika hal tersebut tidak diindahkan maka cerita akan menjadi monoton. Meskipun telah tertulis dalam skrip, pemain harus menghayati dialognya tanpa menghafal sehingga jika terdapat kejadian di luar skrip pemain akan secara natural menutupinya seperti yang ada pada kejadian jatuhnya bidadari di tangga. Properti dalam drama mampu menunjang proses naturalisasi cerita, sehingga drama yang disajikan terlihat seperti kejadian yang sebenarnya. Penempatannya harus diletakan sedemikian rupa agar penonton merasa berada dalam cerita tersebut, tetapi apabila properti diletakkan ditempat yang salah akan terlihat jelas bahwa drama tersebut hanya sekadar pementasan belaka. Sebuah aksesoris untuk para pemain drama harus disesuaikan dengan isi cerita, jika cerita itu bersifat modern tidak ada salahnya jika mengenakan kostum era modern, atau sebaliknya jika cerita yang bersifat tempo dulu sebaiknya mengenakan kostum yang sesuai. Riasan sangat penting untuk menunjang penampilan mereka, seperti bidadari yang mengenakan riasan yang cukup banyak dibandingkan pemain lainnya.
Monolog Balada Sumarah
Masyarakat Indonesia sebagian besar merupakan masyarakat penikmat dibandingkan dengan pelaku seni. Tak banyak yang tahu apa arti seni yang sesungguhnya, mereka menganggap seni sebagai kegiatan yang hanya dinikmati anak muda yang cenderung “nakal” karena mereka hanya melihat dari penampilan luarnya saja. Banyaknya seniman lokal Indonesia yang sebagian besar tumbuh di sekitar kita, hal itu menunjukkan bahwa Indonesia dapat dikatakan sebagai negara yang memiliki jiwa seni yang tinggi.
Terdapat beberapa macam seni peran atau drama seperti monolog. Monolog menurut KBBI merupakan adegan sandiwara dengan pelaku tunggal yang membawakan percakapan seorang diri. Seseorang yang terlatih untuk mengikuti drama monolog pasti dapat dilihat dari cara mereka berbicara, tidak mudah melakukan monolog kadang sering disebut orang gila saat berlatih berbicara sendiri. Suara lantang dengan berbagai macam jenis , emosi yang harus dikontrol, pendalaman beberapa karakter itu semua hanyalah sebagian kecil dari bermain monolog. Monolog jarang sekali dilakukan oleh orang awam, mungkin hanya mahasiswa atau pemuda yang berkecimpung diseni drama, bahkan tak sedikit yang belum pernah melihat adegan atau pementasan monolog.
Monolog Balada Sumarah yang dimainkan oleh mahasiswi semester 7 program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini menuai banyak pujian dengan seabreg penghargaan yang ia miliki. Monolog yang ia bawakan dengan judul Balada Sumarah mendapat peringkat pertama ditingkat Jawa Tengah, hal ini membuktikan bahwa dengan berlatih dan usaha yang gigih kemenangan dapat diraih dengan mudah. Cerita yang mengangkat kesengsaraan seorang TKW yang dihina dan dicampakkan oleh majikannya, tidak hanya itu gunjingan dari dalam negeri pun ia dapatkan akibat perbuatan sepele ayahnya yang mengirim gula di koperasi PKI. Negeri yang aneh saat itu, hanya datang ke tempat PKI saja sudah dianggap sebagai orang PKI bagaimana jika itu benar-benar orang PKI, akan dikubur hidup-hidup mungkin. Sumarah yang sangat pandai saat sekolah membuatnya gila saat ilmu yang ia dapatkan tidak berguna sama sekali, perjuangannya untuk hidup layak di negeri orang pun telah sia-sia, perkosaan yang didapatnya dari sang majikan membuatnya geram. Tanpa berpikir panjang lagi ia membunuh majikannya dan ia pun dihukum mati atas keinginannya dengan hati yang senang.
Benar dengan yang dikatakan oleh Yosy, cerita ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandangan dengan pesan yang disampaikan oleh pemain. Pemilihan properti yang sangat menarik dan simpel dapat mempengaruhi isi cerita, baik dengan sedikit properti ataupun banyak, sehingga penonton dapat terpusat diisi cerita yang pemain sampaikan daripada melihat properti yang tidak penting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar