Selasa, 20 Desember 2016

Esai "JAKA TARUB DAN MONOLOG BALADA SUMARAH "

Nama : Anantika Prihatani
NPM : 15410228
Kelas : 3E
JAKA TARUB DAN MONOLOG BALADA SUMARAH
Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Jaka Tarub. Seorang anak kampung yang bermimpi menikah dengan bidadari. Selasa, 4 Oktober 2016 Teater Gema UPGRIS mengadakan suatu pementasan drama berjudul Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah. Sebuah pertunjukan yang sangat luar biasa bagi setiap mahasiswa terutama pada mahasiswa PBSI.
Drama Jaka Tarub yang dimainkan menggunakan alur campuran, pada bagian awal mereka menceritakan Jaka Tarub sebagai sosok ayah yang sangat menyayangi anaknya, Nawangsih. Drama Jaka Tarub dikemas secara apik dan menarik untuk dilihat. Singkat cerita, Jaka Tarub remaja sering mengigau tentang ibunya, kata sang ibu suatu hari ia akan menikah dengan seorang bidadari. Sahabat yang selalu ada untuknya datang untuk memberikan semangat. Tak berapa lama, sekelompok bidadari turun dari langit untuk mandi ke sungai. Jaka Tarub yang berada di balik batu untuk mengintipnya merasa sangat senang, sifat liciknya pun berhasil menjadikan salah satu dari bidadari diatas sebagai istrinya. Dengan mengambil salah satu selendang milik mereka, Jaka berpura-pura tidak mengetahui dan menemui bidadari tersebut. Saat Jaka Tarub mengintip tadi, ia mendengar bahwa jika seseorang laki-laki yang datang membawa baju akan dijadikan seorang suami dan jika itu perempuan akan dijadikan sebagai saudaranya. Dengan modal baju ibunya, ia dapat mempersunting seorang bidadari. Ternyata keinginan sang ibu tercapai, Jaka Tarub menikah dengan seorang bidadari cantik bernama Nawang Wulan. Tak lama menikah, mereka dikaruniai seorang putri cantik bernama Nawangsih. Dalam menunggu jeda pertunjukan Jaka Tarub, penulis skenario menambahkan dua anak laki-laki yang berperan sebagai Tomo dan Topo untuk melakukan dialog interaktif kepada para penonton. Diceritakan, mereka adalah seorang calon lurah, sebagai lurah mereka harus berpengetahuan luas dan mendalam.Tomo dan Topo sama-sama berbadan besar sehingga membuat penonton tertawa melihatnya. Materi yang mereka sampaikan sangatlah natural bahkan mereka bisa disebut sebagai kakak adik kembar sifat, sama-sama berbadan besar dan memiliki pengetahuan yang kurang. Kembali ke cerita Jaka Tarub, Nawang Wulan pergi untuk mencuci baju di sungai, ia berpesan kepada suaminya agar tidak membuka tutup penanak nasi tetapi Jaka Tarub tidak mengindahkan peringatan istrinya, ia tetap saja membuka. Alangkah terkejutnya ia saat membuka tutup penanak nasi, disana hanya terdapat sebatang padi untuk dijadikan sebagai nasi yang cukup untuk mereka makan sehari. Selesai mencuci baju, Nawang Wulan kembali ke rumahnya. Selesai membereskan pakaiannya Jaka Tarub bertanya kepada istrinya, perihal yang ia lihat tadi, Nawang Wulan sangat marah akibat dari perbuatan suaminya yang membuat kesaktiannya hilang. Jaka Tarub terus meminta maaf atas kesalahan dan kecerobohannya. Suasana semakin tambah mencekam pada saat Nawang Wulan menemukan selendangnya di bawah lumbung padi, Nawang Wulan marah sejadi-jadinya, ia memutuskan untuk kembali ke kayangan karena sudah tidak sanggup tinggal bersama Jaka Tarub yang telah ingkar dan pencuri. Jaka Tarub terus meminta Nawang Wulan untuk tetap tinggal bersamanya dengan alasan putrinya masih terlalu kecil untuk ditinggalkan oleh ibu. Nawang Wulan berjanji akan tetap melakukan kewajiban-kewajiban dengan satu syarat yaitu membawa Nawangsih ke sungai pada saat bulan purnama tanpa ditemani ayahnya. Cerita kembali ke awal yaitu saat Nawangsih telah dewasa, Jaka Tarub belum siap jika harus berpisah dengan anak satu-satunya. Itu lah sedikit cuplikan cerita dari drama Jaka Tarub, sebuah cerita yang patut diceritakan kepada anak-anak dengan pengawasan orang tua. Kita dapat mengambil pesan dari cerita ini, bahwasanya sesuatu hal mustahil dapat menjadi kenyataan dan indah manakala kita mendapatkannya dengan baik dan menjaganya dengan baik pula.
Monolog balada Sumarah, yang dimainkan oleh mahasiswi semester 7 prodi PBSI ini sangatlah indah, patut saja ia menjuarai lomba monolog di tingkat Jawa Tengah. Monolog ini menceritakan tentang pahitnya kehidupan seorang TKW. Sebuah tema yang jarang sekali dibuat untuk monolog. Singkat cerita, ada seorang wanita yang bekerja di negeri orang bisa disebut pahlawan devisa ialah Sumarah bin Sulaiman. Di negernya sendiri ia dihujat karena ayahnya bekerja di tempat di mana itu milik PKI, semua tetangga dan negeri memberikan cap keluarga PKI. Ia tidak mendapatkan surat keterangan bersih dari daerahnya dan memutuskan untuk pergi ke luar negeri untuk mendapatkan uang untuk membuka mata orang-orang di negerinya. Tapi apalah daya, ia hanya seseorang lulusan SMA meskipun nilainya baik, rumus matematika yang selama ini menjadi makanannya sehari-hari kini menjadi rumus mengepel, menyetrika, menyapu dan semua hal yang dikerjakannya sebagai seorang “babu”. Meskipun majikannya menggunakan kain sorban, dan bercadar, tidak memungkinkan untuk tidak menyiksanya. Ia dipukul, diseret bahkan diperkosa oleh majikannya. Kesabaran Sumarah diuji hingga demikian. Hujatan di negeri sendiri caci maki di negeri orang, tak ada lagi yang bisa menerima diri Sumarah. Dengan keberanian dan pikiran yang waras ia membunuh majikannya, ia geram melihat tingkah laku majikannya yang mempekerjakan Sumarah bagaikan hewan. Dalam pengadilan, ia tidak perlu pengacara, penasehat hukum atau pembelaan. Ia yang tidak pernah salah selama ini selalu disalahkan, dan sekarang saatnya ia melakukan kesalahan yang benar-benar kesalahannya. Ia senang dengan keputusannya untuk hukuman mati yang memvonisnya. Kita dapat mengambil hikmah dari monologan di atas, bahwa sedikit kesalahan yang dibuat akan berdampak dalam kehidupan selanjutnya.
Kedua drama tersebut mengingatkan kembali bawah tidak hanya film atau sinetron yang patut diapresiasi, drama kecil seperti ini pun bisa. Tidak mudah mengemas drama dan monolog hingga tidak membosankan penonton. Akting pemain dan skenario pun harus sejalan, jika mereka tak sejalan, tidak akan muncul drama seperti ini. Penonton yang kondusif juga mendukung jalannya pementasan drama ini. Dengan adanya pementasan drama seperti ini semoga dapat menginspirasi penonton untuk melestarikannya juga terutama mengangkat cerita daerah. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar