Selasa, 20 Desember 2016

Esai "Termotivasi Kehadiran sang Sastrawan"

Nama : Anantika Prihatani
NPM : 15410228
Kelas : 3E
Termotivasi kehadiran Sang Sastrawan
UPGRIS Bersastra baru saja digelar di Balairung Universitas PGRI Semarang 19 Oktober ini. Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni mengundang seorang sastrawan bernama Triyanto Triwikromo. Perhelatan yang bertajuk 3 Buku, 3 Pembaca, 3 Kritikus, 1 Pengarang ini dihadiri oleh beberapa kalangan sastrawan, penyair, rektor beserta jajarannya, tak lupa mahasiswa UPGRIS yang mulia. Beberapa pembaca seperti Sri Suciati, Muhdi dan Bambang Sulanjar turut memeriahkan perhelatan tersebut. Acara tersebut dipersembahkan oleh FPBS kepada Triyanto Triwikromo sebagai penghargaan tersendiri baginya.
Ada beberapa hal menarik yang disuguhkan. Hadirnya dancer  yang sebelumnya tidak pernah dihadirkan dalam acara yang berhubungan dengan sastra. Tidak hanya itu, pembacaan puisi yang berbeda dari biasanya oleh Bambang Sulanjar pun menambah kesan alami dalam gedung. Tepuk tangan penonton yang sangat gemuruh memecahkan keheningan didalam ruangan megah itu. Tak mau kalah, rektor Universitas PGRI Semarang ikut memeriahkan acara dengan membacakan salah satu karya Triyanto Triwikromo dan menyanyikan sebuah lagu karyanya sendiri khusus dipersembahkan dengan diiringi petikan gitar dari jemarinya. Wakil rektor pun tak kalah istimewa dengan yang lain, dengan didampingi mahasiswanya puisi yang ia bacakan dapat dinyanyikan bagaikan geguritan tembang macapat.
3 buku karya Triyanto Triwikromo yang diangkat dalam acara ini yaitu Bersepeda ke Neraka, Selir Musim Panas, dan Sesat Pikir para Binatang. Bersepeda ke Neraka adalah judul yang sangat menarik perhatian, sama seperti dua judul yang lain. Entah apa yang ada dalam pikiran Triyanto Triwikromo hingga judul yang beliau tulis pasti menggemparkan dunia sastrawan. Sinopsis Selir Musim Panas yang saya kutip dari togamas.co.id yaitu lirik-lirik perih yang menggambarkan intrik pada masa sebelum dan sesudah Ratu Tzu Hsi berkuasa di Tiongkok. Teks-teks ini juga menunjukkan sisi lain Mao, Tiananmen, Puyi, kegairahan selir-selir menghadapi hidup dan kematian, serta pencarian jati diri kemanusiaan. Bagi saya, judul buku yang paling menakutkan yaitu Bersepeda ke Neraka, bagaimana tidak jika setiap orang pasti berbondong-bondong untuk ke surga tapi bung Triyanto Triwikromo justru memilih bersepeda ke Neraka. Sesat Pikir para Binatang pun tidak kalah bagusnya Dengan buku yang lain.
Tiga kritikus yang mengomentari karya Triyanto Triwikromo yaitu S. Prasetyo, Nur Hidayat dan Eko Putra. Masing-masing kritikus memiliki kriteria tersendiri dalam menilai karya seseorang. Seluruh kritikus memberikan komentar yang baik terhadap pengarang bahkan pengarang pun menuai pujian dari tiga kritikus yang hadir. Pujian tidak hanya disampaikan oleh kritikus, banyak dari mahasiswa dan dosen yang membuat esai sebagai bentuk apresiasi terhadap karya seorang sastrawan kelahiran Salatiga, 15 September 1964. Merasa diistimewakan dalam kemeriahan acara Bulan Bahasa ini, Triyanto Triwikromo hampir atau mungkin meneteskan air mata. Ia mengaku bahwa selama ia menghadiri acara di luar negeri tak merasa sedikit pun rasa sedih karena terharu, tetapi kali ini ia sampai tak bisa mengungkapkan sepatah atau dua patah kalimat, karena terlalu terharu.
Panggung yang ditata sangat simpel dan menarik dengan diberikan dua sisi cermin menambah rasa ingin tahu kelanjutan ceritanya. Di atas panggung terdapat pigura kayu yang bergantungan serta tulisan MMT yang terpasang di depan layar. Pertunjukan dari Biscuittime menambah syahdu suasana dalam Balairung. Pembacaan salah satu karya Triyanto Triwikromo yang di baca oleh mahasiswa yang mengikuti Teater Gema menjadikan suasana semakin mencekam akibat suara mereka yang sangat lantang. Penampilan penghibur acara tidak hanya mahasiswa yang berasal dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni melainkan dari fakultas lain seperti mahasiswa PGSD.
Triyanto Triwikromo merupakan lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP PGRI Semarang.Sebelum sebagai seorang sastrawan beliau pernah bekerja sebagai guru dan pekerja kasar di diskotik. Di samping bekerja sebagai redaktur sastra di harian Suara merdeka Semarang, dia juga menulis cerpen di Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Suara Pembaharuan, Matra, Bernas, Jawa Pos, Pelita, Suara Merdeka, dan Republika. Selain sebagai seorang penulis, dia kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra. Antara lain menjadi pembicara dalam “Pertemuan Teater Indonesia 1998” di Yogyakarta, mengikuti “Pertemuan Sastrawan Indonesia 1997” di Padang, dan menjadi aktivis Gerakan Revitalisasi Sastra Perdalaman, (badanbahasa.kemendikbud.go.id).
Seringnya kedatangan tamu seorang sastrawan dan acara menyangkut sastra, membuat mahasiswa termotivasi untuk belajar bersastra. Banyak kampus-kampus di luar sana yang ikut termotivasi dalam hadirnya sosok penting dalam dunia sastrawan. Tidak hanya itu, dosen pun termotivasi pula untuk memberikan tugas kepada mahasiswanya menyangkut perhelatan Akbar kemarin. Jika kegiatan tersebut rutin dilakukan maka semakin luas pula wawasan mahasiswa dalam bersastra.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar