Nama : Anantika Prihatani
NPM : 15410228
Kelas : 3E
Selamat pagi, dosen Penulisan Media Massa yang rajin memberikan tugas.
Bagaimana kabar bapak beserta kawan-kawan sastrawan? Semoga tidak seburuk saya hari ini yang memiliki banyak rencana tak terealisasikan. Terkejut, saya sama sekali tidak terkejut dengan kehadiran surat bapak ditengah-tengah keriuhan kelas. Mungkin ada beberapa teman yang sedikit terkejut dengan datangnya surat misterius ini. Dan tak sedikit pula yang merinding melihatnya. Hadir tidaknya bapak dalam perkuliahan tak ada bedanya. Tetap saja ada tugas yang bapak berikan. Saya tahu, mungkin bapak berpikir bahwa kita senang jika bapak tidak hadir dalam forum yang paling mulia ini.
Kata “menyesal” yang bapak ucapkan sedikit gatal ditelinga saya. Bagaimana mungkin bapak memilih hadir di perkuliahan yang setiap hari membuat kesal bapak karena tak ada yang mau berargumentasi dibandingkan dengan berkumpul dalam forum yang paling termulia bersama teman-teman sastrawan se Indonesia.
Terima kasih telah mengingatkan saya untuk berusaha membahagiakan diri walau itu hanyalah sebuah pencitraan belaka. Apa dasar bapak dalam menghitung tidak hadirnya perkuliahan yang dituliskan satu Minggu? Jelas-jelas hanyalah tertulis 18-20 Oktober 2016, berarti hanya 3 hari bapak menghadiri acara tersebut. Saya baru ingat jika perjalanan menggunakan pesawat sungguh memakan waktu hingga totalnya satu Minggu. Setelah saya berpikir panjang, mengapa bapak bisa mengatakan naik pesawat di stasiun, akhirnya saya menemukan jawabannya. Mungkin bapak berharap atau dijanjikan naik pesawat tetapi hanya mampu membeli tiket kereta api. Atau dalam imajinasi bapak, pesawat berpindah tempat di stasiun.
Bapak pasti masih mengira bahwa kami masih sering makan Indomie, tuduhan itu salah. Zaman sekarang tidak ada lagi mahasiswa yang lebih makan Indomie dibandingkan dengan nasi rames yang hanya tiga ribu. Jika masih ada, pastilah hanya untuk mengganjal lapar.
Jelas sekali terlihat sikap mahasiswa yang pandai menutup-nutupi segala kekurangan dan mengurangi segala kelebihan sehingga terlihat cukup. Yang pertama, tidak ada pengaruhnya sedikit pun jika bapak tinggalkan semacam ini. Yang kedua, semoga kepergian bapak dapat membantu terwujudnya keinginan untuk menggugah pikiran mahasiswa dalam dunia baca dan dunia menulis.
Sesungguhnya malas sekali menjawab pertanyaan bapak. Tidak ada orang yang tidak suka membaca, hanya saja rasa malas yang sering melanda. Entah bagaimana rasa malas itu datang. Keinginan seseorang untuk membaca tidak dapat dipaksakan begitu saja. Banyaknya yang hanya suka membaca buku, artikel, cerpen, puisi atau yang hanya suka membaca novel seperti saya. Pada awalnya saya tidak suka dengan membaca tetapi dengan melihat kebiasaan seseorang yang sering kita lihat lama-lama saya jadi ingin melakukannya. Orang yang saya maksudkan adalah mahasiswa semester 7 prodi PBSI tepatnya yang setiap malam tidur di samping saya. Ialah yang mendorong saya untuk terus membaca. Tanpa disadari kebiasaannya yang sering membaca novel sebelum tidur pun saya tirukan sehingga ada kemauan untuk membaca hingga membeli novel sendiri. Jadi dapat disimpulkan bahwa setiap keinginan seseorang untuk membaca bergantung pada isi buku dan adanya motivasi seseorang untuk terus membaca.
Malas juga tidak hanya pada membaca, dalam mengutarakan gagasan atau argumentasi pun bisa. Semua mahasiswa pasti memiliki unek-unek untuk dibicarakan di depan kelas. Hanya saja banyak yang tidak percaya diri dengan jawabannya sendiri. Sekarang bapak mulai memberlakukan sistem nilai untuk mahasiswa yang mau mengutarakan nilai, hal tersebut yang membuat tambah malas teman-teman terutama saya untuk berargumen di kelas. Bagaimana kita mau berpendapat jika mendapat nilai (-) saat jawaban itu menurut bapak salah, setidaknya tidak usah diberi nilai jika salah. Untuk apa susah-susah berpikir jika hasilnya (-). Nilai itu dapat memotivasi mahasiswa untuk berani mengutarakan gagasan atau ide yang mereka miliki. Sebaiknya bapak tinjau kembali sistem penilaian bapak selama ini. Dan tinjau ulang penilaian bapak terhadap kami sebelum menilai buruk sikap kami.
Maaf jika kata-kata saya menyinggung perasaan Bapak. Bukanya saya tidak mampu membeli koran bekas maupun baru. Jangankan buku bekas buku novel yang saya punya pun tidak ada yang saya beli selain di Gramedia. Bukannya kesombongan yang saya miliki, bukannya saya terlahir dengan begitu bijaksana, bukannya saya sudah punya masa depan yang sudah bisa diprediksi kehadirannya sejak saya belum lahir, bukannya masa depan warisan yang saya miliki, tetapi hanya sifat malas yang melanda untuk mengungkapkan argunen secara langsung di kelas.
Entah manusia macam apa saya ini yang tidak tahu tentang dirinya sendiri. Sampai saat ini belum dapat menemukan hal kecil yang paling kecil atau paling sederhana itu. Bagaimana dengan niatan untuk bertahan hidup? Setiap orang pasti memiliki tujuan hidup tertentu tapi pastilah tujuan hidup tersebut baik. Orang tua ialah alasan saya untuk bertahan hidup sampai sekarang. Beliaulah yang memberikan hidup di dalam tubuh ini. Orang tua lah yang membiayai pendidikan mulai dari PAUD yang manja luar biasa, TK yang sok dewasa, SD pun jaraknya cukup jauh dari rumah, SMP yang mencari perhatian, SMA yang menghabiskan uang untuk jajan, dan sekarang kuliah di luar kota yang membutuhkan biaya yang sangat besar. Mulai dari uang membayar indekos, biaya semesteran, uang makan, uang buku, uang bensin, dan uang uang yang lain. Semua yang saya lakukan selama ini hanya untuk satu alasan, membahagiakan orang tua. Saat kita mau melaksanakan apa yang diperintahkan, pasti orang tua kita sedikit bahagia, bagaimana jika kita melakukan dengan baik, orang tua pun akan merasa dirinya bahagia.
Tingkat kejenuhan mahasiswa dapat dilihat dari banyaknya tipe suara yang terdengar. Semakin banyak warna suara, semakin jenuhlah dosen itu mengajar. Tak ada mahasiswa yang tidak mau mendengarkan yang dosen mereka ajarkan, tapi ya ada yang mau pula jika dosen tersebut membosankan untuk didengar maupun dilihat. Membuat sebuah forum di dalam forum itu sangatlah biasa di negara ini. Mungkin ide bapak untuk membawa balon dan permen di dalam kelas, dapat memberikan warna tersendiri bagi mahasiswa yang mulai jenuh dengan dosen sebelumnya.
Baru sedikit buku yang saya baca, tidak sebanding dengan jumlah yang telah bapak baca. Hanya beberapa novel dan koran yang terbaca dalam satu Minggu. Selama kuliah ini baru 8 novel yang terbaca. Jika koran mungkin dapat dihitung dengan jari. Belum ada kesadaran untuk saya membaca koran, mungkin hanya lihat berita lewat detik.com sudah cukup bagi saya.
Saya akui jika saya tidak semenarik bapak, tidak selaku bapak, tidak sebercahaya bspak, tidak seperti bapak yang mudah menaklukkan bermacam lawan jenis. Karena saya tahu setiap orang memiliki sifat yang berbeda sehingga tujuan-tujuan yang bapak minta pun berbeda.
Mungkin ini saja yang dapat saya sampaikan kepada bapak untuk bisa memahami diri saya lebih jauh. Terima kasih selalu mengingatkan untuk berpura-pura bahagia. Saya minta maaf sebesar-besarnya kepada bapak selaku dosen Penulisan Media Massa atas ucapan atau perkataan yang menyinggung perasaan bapak. Semoga amal ibadah bapak dibalas yang setimpaloleh Allah SWT, amin.