Minggu, 24 April 2016

AUTOBIOGRAFI 2 ANANTIKA PRIHATANI

Nama  : Anantika Prihatani
NPM    : 15410228
Kelas   : 2E
Progdi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas PGRI Semarang
                           Autobiografi 2

              Sepasang muda-mudi bernama Kanan dan Tani Supadmi melangsungkan pernikahan pada tahun 1996 di Pati. Satu tahun kemudian tepatnya pada tanggal 22 Februari 1997 lahirlah buah cinta mereka di Boyolali yang bernama Anantika Prihatani yang mengandung beberapa gabungan nama yaitu Anan yang berasal dari nama Kanan, TIKA berasal dari gabungan TanI dan KAnan serta Pri berasal dari bulan sang putri lahir yaitu PebruaRi dan tambahan dari nama sang ibu, Tani.
              Tika adalah nama panggilan yang sering mereka ucapkan untuk memanggilku. Pertama kali bersekolah di TK Pembina pada umur tiga tahun sampai umur enam tahun. Pada tanggal 22 Juni 2001 lahirlah seorang pangeran kecil yang diberi nama Andhika Citra Sena, yang memiliki tanda lahir di punggungnnya. 
              Pada tahun 2003 ibu meninggal dunia akibat tumor otak yang bersarang di kepala ibu. Aku dan ayah sangat terpukul atas kehilangan ibu terlebih adik yang hanya mendapatkan dua tahun kasih sayang dari seorang ibu. Keadaan sangat kacau sehingga ayah membawa adik untuk tinggal bersama nenek di Boyolali, sedangkan aku bersama ayah tetap tinggal di Kudus.
               SD 1 Barongan tempatku melanjutkan pendidikan dari kelas satu sampai kelas enam. Masa kanak-kanak membuatku merasa iri dengan teman saat mereka diantar dan dijemput oleh orang tua terutama bersama ibu, sedangkan aku hanya diantar oleh ayah dan dijemput oleh supir langganan. Saat duduk di bangku kelas tiga, aku bertemu seorang wanita yang sekarang menjadi pengganti sosok ibu yang mendampingi ayah ku. Beliau bernama Tri Kurniawati yang bekerja sebagai guru kelas tiga di SD tempat ku menempuh pendidikan. Satu tahun kemudian lahirlah putri kecil yang bernama Atriska Rahma Pratidina, ia memiliki kulit lebih gelap dibandingkan kedua kakaknya. Kita tinggal di gubuk kecil di Desa Panjang Rt. 04/ Rw. 03 kecamatan Bae kabupaten Kudus.
              SMP 2 Kudus sekolah selanjutnya setelah lulus dari sekolah dasar, yang pada saat itu masih menggunakan titel RSBI dan mengharuskan ku mahir berbahasa Inggris. Di sana kita dapat menemukan teman-teman yang berbeda golongan yang dilihat dari ekonomi keluarga, karena sekolah tersebut cukup bergengsi dikalangan ekonomi menengah ke atas. 
              Selama tiga tahun aku menempuh pendidikan di SMA 2 Bae Kudus. Masa-masa SMA adalah masa terindah dikalangan anak remaja karena berakhirnya pendidikan formal wajib yang harus dijalankan. Disanalah aku menemukan empat sahabat yang selalu ada untuk ku yaitu Alifiana Tidarrani, M. Azmi Maulana, Idfi Oxza Prameswari, Na'imatus Solikhah. Mereka melanjutkan pendidikan di tempat yang berbeda, meskipun berbeda tempat, kita akan selalu berkomunikasi. 
               Melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi sangat diinginkan oleh seluruh orang terutama menjadi kebanggaan orang tua. Universitas PGRI Semarang menjadi salah satu pilihan untuk menambahkan ilmu. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia adalah program studi yang saya pilih, karena mempelajari bahasa ibu ini sangatlah sulit dan butuh konsentrasi. Di semester dua ini aku menemukan dua teman yang selalu membantu  yaitu Prananing Meisya dan Pipit Apriliana. Tak lupa kakak yang setiap malam berada di sampingku Dwi Rachmadani.


Sabtu, 09 April 2016

AUTOBIOGRAFI ANANTIKA PRIHATANI



Nama  : Anantika Prihatani
NPM   : 15410228
Kelas   : 1E
Progdi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas PGRI Semarang

AUTOBIOGRAFI

Nama saya Anantika Prihatani, biasa dipanggil Tika.Saya anak pertama dari 3 bersaudara yang lahir di Boyolali tepatnya di desa Kwiran kecamatan Banyudono pada tanggal 22 Februari 1997.Saya dibesarkan di Kudus.Tempat tinggal saya di desa Panjang RT04/RW03 Kecamatan Bae Kabupaten Kudus. Nama ayah saya Kanan yang lahir di kota Pati sebagai anak terakhir dari 8 bersaudara, beliau berprofesi sebagai polisi di POLSEK Mayong Jepara. Ayah saya seorang yang sangat disiplin waktu terutama saat solat dan sangat bijaksana dalam melakukan apapun.Nama ibu saya Tani Supadmi (Almh), ibu anak ke 2 dari 3 bersaudara.Ibu sangat pandai menari, terbukti saat ibu mengikuti beberapa kontes menari.
Tahun 2003 ibu saya meninggal dunia, ibu saya mengidap penyakit tumor otak sebesar bola tenis lapangan yang tidak memungkinkan untuk dioperasi.Penyakit ibu tidak diketahui oleh keluarga besar sampai ayah pun mengetahuinya saat tumor itu sudah mulai membesar, ibu sering mengeluhkan rasa sakit yang hebat dikepala sehingga membuat ibu merasakan bahwa kepalanya seperti akan pecah. Ibu meninggal di Boyolali tepatnya di Rumah Sakit Kandang Sapi, saat itu saya tidak tahu kalau ada banyak saudara yang berdatangan, saya mengira akan ada arisan keluarga tetapi tidak. Saat saya masuk kerumah, saya melihat semua orang menangis mengelilingi sebuah kotak besar berwarna putih dipenuhi bunga-bunga, ayah menggendongku untuk melihat isi kotak itu, aku melihat ibu tidur dengan nyenyak di kotak itu, saya diberitahu ayah kalau ibu telah meninggal, saya menangis sejadi-jadinya. Dengan memeluk erat tubuh saya, ayah mencoba menguatkan dirinya.Saat kotak itu digotong beberapa saudara, dengan sigap tante menggendong saya keluar rumah dan melakukan 3 kali putaran berjalan dibawah kotak besar berwarna putih itu.Pemakaman yang berlokasikan di Boyolali berjalan dengan lancar dipenuhi dengan pelayat yang ikut mengantarkan ibu ke peristirahatan terakhirnnya.
Seringkali saya memikirkan ibu, sedang apa beliau, dimana beliau, dan bersama siapa beliau sekarang. Bersama ayah dan adik, saya melewati tahun-tahun tanpa didampingi seorang ibu.Ibu yang selalu membuatkan sarapan untuk saya, makan siang kesukaan saya, dan makan bersama dengan ayah dan adik saya. Meskipun begitu, saya lebih beruntung dibandingkan dengan adik saya karena ia hanya menikmati kasih sayang seorang ibu kandung dalam waktu satu setengah tahun.Banyak orang diluar sana yang menyianyiakan ibu kandungnya, mereka lebih beruntung dibandingkan dengan saya. Ikhlas adalah kata yang bisa saya ucapkan saat ditanyai seseorang tentang ibu, meskipun dalam hati menangis tetapi saya tidak akan menangis didepan semua orang karena itu janji saya kepada ibu.
Di tahun 2007 saya memiliki ibu sambung bernama Tri Kurniawati.Pertama kali aku mengenalnya saat beliau menjadi guru SD saya di kelas 3.Berawal dari les di rumah beliau, sampai tidur di rumah beliau pernah saya jalani.Saya memanggilnya dengan sebutan mama, beliau seorang yang sangat tegas terlihat dari caranya berbicara, mama mendidik saya untuk rajin belajar dan rajin membersihkan seluruh rumah.Banyak orang mengira kalau seorang ibu sambung itu suka menyiksa anak tirinya, semua itu tidak berlaku pada saya.Beruntung sekali saya mendapatkan ibu sambung yang baik serta dapat mendidik saya ke jalan yang benar, tidak lagi manja, suka kebersihan, dan tegas dalam bersikap. Saya memiliki 1 adik kandung laki-laki bernama Andhika Citra Sena, sekarang ia kelas 3 di SMP 5 Kudus. Adik saya yang satu ini sangat menyayangi hewan terlebih pada kelinci, burung, ayam serama, dan kambing. Saya juga memiliki 1 adik perempuan dari ibu yang berbeda, ia bernama       Atriska Rahma Pratidina, sekarang ia kelas 3 di SD 1 Barongan tempat yang sama dimana mama saya bekerja. Adik saya ini pandai sekali dalam membaca puisi, tetapi ia sangat penakut, ia selalu ikut jika ayah dan mama pergi. Meskipun ia tidak adik kandung saya, saya sangat menyayanginya seperti adik kandung saya sendiri. Mama dan ayah juga tidak membeda-bedakan anaknya terlebih memanjakan ke tiga anaknya.
Saya mulai sekolah pada umur 3 tahun karena pada saat itu saya sangat senang belajar. Saya sekolah di TK Pembina Perumnas Gerbang Harapan yang berlokasi di Perumnas Gerbang Harapan karena dulu sebelum saya mempunyai ibu sambung saya tinggal di Perumnas Gerbang Harapan, selanjutnya saya masuk di SDN 1 Barongan Kudus yang berlokasi di tengah kota Kudus. 6 tahun saya belajar di SD, kemudian saya melanjutkan di SMPN 2 Kudus yang saat itu masih menggunakan sistem RSBI. Pada tahun ajaran 2012/2013 saya belajar di SMAN 2 Bae Kudus, kenaikan kelas 2 saatnya menentukan jurusan, saya ditempatkan di jurusan IPA karena nilai IPA saya lebih baik dibandingkan dengan nilai IPS. Sejak kelas 1 SMA saya memiliki 4 sahabat bernama Rani yang sekarang melanjutkan kuliah di UNSOED prodi Agroteknologi, Oxza yang sekarang melanjutkan kuliah di UPGRIS prodi Pendidikan Matematika, Azmi yang sekarang melanjutkan kuliah di UNNES prodi Pendidikan Seni Rupa, dan Na’ima yang sekarang melanjutkan kuliah di UMK prodi Menejemen .Seluruh teman dan guru di SMA mengetahui persahabatan saya, tetapi saat ini saya berpisah dengan sahabat saya karena melanjutkan kuliah di Universitas yang berbeda.
Pada saat kelulusan saya memilih melanjutkan di Universitas PGRI Semarang dengan mengambil prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia karena saya merasa sangat tertantang mempelajari bahasa Indonesia. Saat SMA nilai bahasa asing saya lebih baik dibandingkan dengan bahasa Indonesia, maka dari itu saya mencoba mencari tahu letak kesalahan saya saat mengerjakan tugas bahas Indonesia. Memiliki teman baru seperti Prananing yang tinggal di Semarang membuat saya lebih bersemangat dalam belajar dan berorganisasi, ia selalu mendukung saya dalam melakukan apapun.Dalam kelas, saya menjadi seseorang yang mudah sekali berinteraksi kepada teman-teman. Saat ini saya kos di jalan Hiri Raya nomor 4, saya memiliki teman-teman yang baik di kos seperti Nuri yang berasal dari Pati, Fitri yang berasal dari Pekalongan, Kak Windi yang berasal dari Batang, Kak Isfa, Kak Wiwid, Kak Eka yang berasal dari Pemalang dan masih banyak lagi. Mereka mudah sekali menerima keluarga baru, dan tidak membeda-bedakan status.
Cita-cita saya sebenarnya ingin menjadi seperti ayah, tetapi fisik saya yang tidak memungkinkan untuk mengikuti seleksi, jadi saya mengurungkan niat saya untuk menjadi seperti ayah. Menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia, tidak mudah menjadi seorang guru meski ia pandai sekalipun. Hobi saya adalah berenang, tetapi makan-makanan ringan yang lebih sering saya lakukan, hobi saya inilah yang membuat saya tidak bisa mengikuti seleksi.Dulu saya sangat kurus sehingga tetangga sekitar mengira saya tidak pernah diberi makan, tetapi saat saya gemuk seperti sekarang, banyak orang yang mengiginkan saya untuk menguruskan badan. Menguruskan badan tidaklah mudah, sudah beberapa cara saya lakukan mulai dari diet ketat sampai minum-minuman herbal, tetapi semua saya lakukan belum dengan tekad yang kuat karena orang-orang di sekitar saya yang belum bisa mendukung.











BIOGRAFI ANANTIKA PRIHATANI



Nama : Anantika Prihatani
Kelas  : I E
NPM  : 15410228
Progdi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas PGRI Semarang




BIOGRAFI

Namanya Anantika Prihatani, biasa dipanggil Tika. Dia anak pertama dari 3 bersaudara yang lahir di Boyolali tepatnya di desa Kwiran kecamatan Banyudono pada tanggal 22 Februari 1997. Tika dibesarkan di Kudus. Tempat tinggalnya saat ini di desa Panjang RT04/RW03 Kecamatan Bae Kabupaten Kudus. Nama ayahnya Kanan yang lahir di kota Pati sebagai anak terakhir dari 8 bersaudara, beliau berprofesi sebagai polisi di POLSEK Dawe Kudus. Ayahnya seorang yang sangat disiplin waktu terutama saat solat dan sangat bijaksana dalam melakukan apapun. Nama ibunya Tani Supadmi (Almh), beliau anak ke 2 dari 3 bersaudara. Ibu sangat pandai menari, terbukti saat beliau mengikuti beberapa kontes menari.
Tahun 2003 Tika kehilangan ibunda tercintanya untuk selama-lamanya, ibunya mengidap penyakit tumor otak sebesar bola tenis lapangan yang tidak memungkinkan untuk dioperasi. Penyakit beliau tidak diketahui oleh keluarga besar sampai ayahnya pun mengetahuinya saat tumor itu sudah mulai membesar, beliau sering mengeluhkan rasa sakit yang hebat dikepala sehingga membuatnya merasakan bahwa kepala beliau seperti akan pecah. Ibunya meninggal di Boyolali tepatnya di Rumah Sakit Kandang Sapi, saat itu Tika tidak tahu kalau ada banyak saudara yang berdatangan, ia mengira akan ada arisan keluarga tetapi tidak. Saat Tika masuk ke rumah, ia melihat semua orang menangis mengelilingi sebuah kotak besar berwarna putih dipenuhi bunga-bunga, ayahnya menggendong Tika untuk melihat isi kotak itu, Tika melihat ibunya tidur dengan nyenyak di kotak itu, saat diberitahu sang ayah kalau ibunya telah meninggal, ia menangis sejadi-jadinya. Dengan memeluk erat tubuh anaknya, beliau mencoba menguatkan dirinya. Saat kotak itu digotong beberapa saudara, dengan sigap tante menggendong Tika keluar rumah dan melakukan 3 kali putaran berjalan dibawah kotak besar berwarna putih itu sebagai penghormatan terakhir yang dilakukan oleh keluarganya. Pemakaman yang berlokasikan di Boyolali berjalan dengan lancar dipenuhi dengan pelayat yang ikut mengantarkan sang ibunda ke peristirahatan terakhirnnya.
Seringkali Tika memikirkan ibunya, sedang apa beliau, dimana beliau, dan bersama siapa beliau sekarang. Bersama ayahhanda dan adiknya, ia melewati tahun-tahun tanpa didampingi seorang ibu. Ibu yang selalu membuatkan sarapan untuknya, makan siang kesukaannya, dan makan bersama dengan ayah dan adiknya. Meskipun begitu, ia merasa  lebih beruntung dibandingkan dengan adiknya karena ia hanya menikmati kasih sayang seorang ibu kandung dalam waktu satu setengah tahun saja. Banyak orang diluar sana yang menyianyiakan ibu kandungnya, mereka lebih beruntung dibandingkan dengan Tika. Ikhlas adalah kata yang mampu ia ucapkan saat seseorang bertanya tentang sang ibunda, meskipun dalam hati ia menangis tetapi ia tidak akan menangis didepan semua orang karena itu janjinya kepada ibunda tercinta.
Di tahun 2007 Tika memiliki ibu sambung bernama Tri Kurniawati. Pertama kali ia mengenalnya saat beliau menjadi guru SD kelas 3 di sekolahnya. Berawal dari les di rumah beliau, sampai tidur di rumah beliau pernah ia lakukan. Tika memanggilnya dengan sebutan mama, beliau seorang yang sangat tegas terlihat dari caranya berbicara, beliau  mendidik Tika untuk rajin belajar dan rajin membersihkan seluruh rumah. Banyak orang mengira kalau seorang ibu sambung itu suka menyiksa anak tirinya, semua itu tidak berlaku pada Tika. Beruntung sekali ia mendapatkan ibu sambung  yang baik serta dapat mendidiknya dalam hal kebaikan, tidak lagi manja, suka kebersihan, dan tegas dalam bersikap. Tika memiliki 1 adik kandung laki-laki bernama Andhika Citra Sena, sekarang ia kelas 3 di SMP 5 Kudus. Adiknya yang satu ini sangat menyayangi hewan terlebih pada kelinci, burung, ayam serama, dan kambing. Tika juga memiliki 1 adik perempuan yang lahir dari ibu sambungnya, ia bernama Atriska Rahma Pratidina, sekarang ia kelas 3 di SD 1 Barongan tempat yang dengan tempat bekerja sang mama. Adik saya ini pandai sekali dalam membaca puisi, tetapi ia sangat penakut, ia selalu ikut jika ayah dan mamanya pergi. Meskipun ia tidak adik kandungnya, Tika sangat menyayanginya seperti adik kandungnya sendiri. Mama dan ayahnya juga tidak membeda-bedakan anaknya terlebih memanjakan ketiga anaknya.
Tika mulai sekolah pada umur 3 tahun karena pada saat itu ia sangat senang belajar. Tika sekolah di TK Pembina Perumnas Gerbang Harapan yang berlokasi di Perumnas Gerbang Harapan karena dulu sebelum Tika mempunyai ibu sambung ia tinggal di Perumnas Gerbang Harapan, selanjutnya ia masuk di SDN 1 Barongan Kudus yang berlokasi di tengah kota Kudus. 6 tahun Tika belajar di SD, kemudian ia melanjutkan di SMPN 2 Kudus yang saat itu masih menggunakan sistem RSBI. Pada tahun ajaran 2012/2013 ia belajar di SMAN 2 Bae Kudus, kenaikan kelas 2 saatnya menentukan jurusan, Tika ditempatkan di jurusan IPA karena nilai IPAnya lebih baik dibandingkan dengan nilai IPSnya. Sejak kelas 1 SMA Tika memiliki 4 sahabat bernama Rani yang sekarang melanjutkan kuliah di UNSOED prodi Agroteknologi, Oxza yang sekarang melanjutkan kuliah di UPGRIS prodi Pendidikan Matematika, Azmi yang sekarang melanjutkan kuliah di UNNES prodi Pendidikan Seni Rupa, dan Na’ima yang sekarang melanjutkan kuliah di UMK prodi Menejemen. Seluruh teman dan guru di SMA mengetahui persahabatannya, tetapi saat ini ia berpisah dengan sahabatnya karena melanjutkan kuliah di Universitas yang berbeda, meskipun begitu setiap Minggu mereka menyempatkan bertemu untuk melepas rasa rindunya.
Pada saat kelulusan Tika memilih melanjutkan di Universitas PGRI Semarang dengan mengambil prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia karena ia merasa sangat tertantang mempelajari bahasa Indonesia. Saat SMA nilai bahasa asingnya lebih baik dibandingkan dengan bahasa Indonesia, maka dari itu ia mencoba mencari tahu letak kesalahannya saat memahami bahasa Indonesia. Memiliki teman baru seperti Prananing yang tinggal di Semarang membuat Tika lebih bersemangat dalam belajar dan berorganisasi, ia selalu mendukungnya dalam melakukan apapun. Dalam kelas, Tika menjadi seseorang yang mudah sekali berinteraksi kepada teman-teman. Saat ini ia kos di jalan Hiri Raya nomor 4, ia memiliki teman-teman yang baik di kos seperti Nuri yang berasal dari Pati, Fitri yang berasal dari Pekalongan, Kak Windi yang berasal dari Batang, Kak Isfa, Kak Wiwid, Kak Eka yang berasal dari Pemalang dan masih banyak lagi. Mereka mudah sekali menerima keluarga baru, dan tidak membeda-bedakan status.
Cita-cita Tika sebenarnya ingin menjadi seperti sang ayah, tetapi fisiknya yang tidak memungkinkan untuk mengikuti seleksi, jadi ia mengurungkan niatnya untuk menjadi seperti ayahnya. Baginya menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia, tidak mudah menjadi seorang guru meski ia pandai sekalipun. Hobinya adalah berenang, tetapi makan-makanan ringan yang lebih sering ia lakukan, hobi inilah yang membuatnya tidak bisa mengikuti seleksi. Dulu Tika sangat kurus sehingga tetangga sekitar mengiranya tidak pernah diberi makan, tetapi saat ia gemuk seperti sekarang, banyak orang yang mengiginkannya untuk menguruskan badan. Menguruskan badan tidaklah mudah, sudah beberapa cara Tika lakukan mulai dari diet ketat sampai minum-minuman herbal, tetapi semua ia lakukan belum dengan tekad yang kuat karena orang-orang di sekitarnya yang belum dapat mendukung.