Sabtu, 09 April 2016

BIOGRAFI ANANTIKA PRIHATANI



Nama : Anantika Prihatani
Kelas  : I E
NPM  : 15410228
Progdi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas PGRI Semarang




BIOGRAFI

Namanya Anantika Prihatani, biasa dipanggil Tika. Dia anak pertama dari 3 bersaudara yang lahir di Boyolali tepatnya di desa Kwiran kecamatan Banyudono pada tanggal 22 Februari 1997. Tika dibesarkan di Kudus. Tempat tinggalnya saat ini di desa Panjang RT04/RW03 Kecamatan Bae Kabupaten Kudus. Nama ayahnya Kanan yang lahir di kota Pati sebagai anak terakhir dari 8 bersaudara, beliau berprofesi sebagai polisi di POLSEK Dawe Kudus. Ayahnya seorang yang sangat disiplin waktu terutama saat solat dan sangat bijaksana dalam melakukan apapun. Nama ibunya Tani Supadmi (Almh), beliau anak ke 2 dari 3 bersaudara. Ibu sangat pandai menari, terbukti saat beliau mengikuti beberapa kontes menari.
Tahun 2003 Tika kehilangan ibunda tercintanya untuk selama-lamanya, ibunya mengidap penyakit tumor otak sebesar bola tenis lapangan yang tidak memungkinkan untuk dioperasi. Penyakit beliau tidak diketahui oleh keluarga besar sampai ayahnya pun mengetahuinya saat tumor itu sudah mulai membesar, beliau sering mengeluhkan rasa sakit yang hebat dikepala sehingga membuatnya merasakan bahwa kepala beliau seperti akan pecah. Ibunya meninggal di Boyolali tepatnya di Rumah Sakit Kandang Sapi, saat itu Tika tidak tahu kalau ada banyak saudara yang berdatangan, ia mengira akan ada arisan keluarga tetapi tidak. Saat Tika masuk ke rumah, ia melihat semua orang menangis mengelilingi sebuah kotak besar berwarna putih dipenuhi bunga-bunga, ayahnya menggendong Tika untuk melihat isi kotak itu, Tika melihat ibunya tidur dengan nyenyak di kotak itu, saat diberitahu sang ayah kalau ibunya telah meninggal, ia menangis sejadi-jadinya. Dengan memeluk erat tubuh anaknya, beliau mencoba menguatkan dirinya. Saat kotak itu digotong beberapa saudara, dengan sigap tante menggendong Tika keluar rumah dan melakukan 3 kali putaran berjalan dibawah kotak besar berwarna putih itu sebagai penghormatan terakhir yang dilakukan oleh keluarganya. Pemakaman yang berlokasikan di Boyolali berjalan dengan lancar dipenuhi dengan pelayat yang ikut mengantarkan sang ibunda ke peristirahatan terakhirnnya.
Seringkali Tika memikirkan ibunya, sedang apa beliau, dimana beliau, dan bersama siapa beliau sekarang. Bersama ayahhanda dan adiknya, ia melewati tahun-tahun tanpa didampingi seorang ibu. Ibu yang selalu membuatkan sarapan untuknya, makan siang kesukaannya, dan makan bersama dengan ayah dan adiknya. Meskipun begitu, ia merasa  lebih beruntung dibandingkan dengan adiknya karena ia hanya menikmati kasih sayang seorang ibu kandung dalam waktu satu setengah tahun saja. Banyak orang diluar sana yang menyianyiakan ibu kandungnya, mereka lebih beruntung dibandingkan dengan Tika. Ikhlas adalah kata yang mampu ia ucapkan saat seseorang bertanya tentang sang ibunda, meskipun dalam hati ia menangis tetapi ia tidak akan menangis didepan semua orang karena itu janjinya kepada ibunda tercinta.
Di tahun 2007 Tika memiliki ibu sambung bernama Tri Kurniawati. Pertama kali ia mengenalnya saat beliau menjadi guru SD kelas 3 di sekolahnya. Berawal dari les di rumah beliau, sampai tidur di rumah beliau pernah ia lakukan. Tika memanggilnya dengan sebutan mama, beliau seorang yang sangat tegas terlihat dari caranya berbicara, beliau  mendidik Tika untuk rajin belajar dan rajin membersihkan seluruh rumah. Banyak orang mengira kalau seorang ibu sambung itu suka menyiksa anak tirinya, semua itu tidak berlaku pada Tika. Beruntung sekali ia mendapatkan ibu sambung  yang baik serta dapat mendidiknya dalam hal kebaikan, tidak lagi manja, suka kebersihan, dan tegas dalam bersikap. Tika memiliki 1 adik kandung laki-laki bernama Andhika Citra Sena, sekarang ia kelas 3 di SMP 5 Kudus. Adiknya yang satu ini sangat menyayangi hewan terlebih pada kelinci, burung, ayam serama, dan kambing. Tika juga memiliki 1 adik perempuan yang lahir dari ibu sambungnya, ia bernama Atriska Rahma Pratidina, sekarang ia kelas 3 di SD 1 Barongan tempat yang dengan tempat bekerja sang mama. Adik saya ini pandai sekali dalam membaca puisi, tetapi ia sangat penakut, ia selalu ikut jika ayah dan mamanya pergi. Meskipun ia tidak adik kandungnya, Tika sangat menyayanginya seperti adik kandungnya sendiri. Mama dan ayahnya juga tidak membeda-bedakan anaknya terlebih memanjakan ketiga anaknya.
Tika mulai sekolah pada umur 3 tahun karena pada saat itu ia sangat senang belajar. Tika sekolah di TK Pembina Perumnas Gerbang Harapan yang berlokasi di Perumnas Gerbang Harapan karena dulu sebelum Tika mempunyai ibu sambung ia tinggal di Perumnas Gerbang Harapan, selanjutnya ia masuk di SDN 1 Barongan Kudus yang berlokasi di tengah kota Kudus. 6 tahun Tika belajar di SD, kemudian ia melanjutkan di SMPN 2 Kudus yang saat itu masih menggunakan sistem RSBI. Pada tahun ajaran 2012/2013 ia belajar di SMAN 2 Bae Kudus, kenaikan kelas 2 saatnya menentukan jurusan, Tika ditempatkan di jurusan IPA karena nilai IPAnya lebih baik dibandingkan dengan nilai IPSnya. Sejak kelas 1 SMA Tika memiliki 4 sahabat bernama Rani yang sekarang melanjutkan kuliah di UNSOED prodi Agroteknologi, Oxza yang sekarang melanjutkan kuliah di UPGRIS prodi Pendidikan Matematika, Azmi yang sekarang melanjutkan kuliah di UNNES prodi Pendidikan Seni Rupa, dan Na’ima yang sekarang melanjutkan kuliah di UMK prodi Menejemen. Seluruh teman dan guru di SMA mengetahui persahabatannya, tetapi saat ini ia berpisah dengan sahabatnya karena melanjutkan kuliah di Universitas yang berbeda, meskipun begitu setiap Minggu mereka menyempatkan bertemu untuk melepas rasa rindunya.
Pada saat kelulusan Tika memilih melanjutkan di Universitas PGRI Semarang dengan mengambil prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia karena ia merasa sangat tertantang mempelajari bahasa Indonesia. Saat SMA nilai bahasa asingnya lebih baik dibandingkan dengan bahasa Indonesia, maka dari itu ia mencoba mencari tahu letak kesalahannya saat memahami bahasa Indonesia. Memiliki teman baru seperti Prananing yang tinggal di Semarang membuat Tika lebih bersemangat dalam belajar dan berorganisasi, ia selalu mendukungnya dalam melakukan apapun. Dalam kelas, Tika menjadi seseorang yang mudah sekali berinteraksi kepada teman-teman. Saat ini ia kos di jalan Hiri Raya nomor 4, ia memiliki teman-teman yang baik di kos seperti Nuri yang berasal dari Pati, Fitri yang berasal dari Pekalongan, Kak Windi yang berasal dari Batang, Kak Isfa, Kak Wiwid, Kak Eka yang berasal dari Pemalang dan masih banyak lagi. Mereka mudah sekali menerima keluarga baru, dan tidak membeda-bedakan status.
Cita-cita Tika sebenarnya ingin menjadi seperti sang ayah, tetapi fisiknya yang tidak memungkinkan untuk mengikuti seleksi, jadi ia mengurungkan niatnya untuk menjadi seperti ayahnya. Baginya menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia, tidak mudah menjadi seorang guru meski ia pandai sekalipun. Hobinya adalah berenang, tetapi makan-makanan ringan yang lebih sering ia lakukan, hobi inilah yang membuatnya tidak bisa mengikuti seleksi. Dulu Tika sangat kurus sehingga tetangga sekitar mengiranya tidak pernah diberi makan, tetapi saat ia gemuk seperti sekarang, banyak orang yang mengiginkannya untuk menguruskan badan. Menguruskan badan tidaklah mudah, sudah beberapa cara Tika lakukan mulai dari diet ketat sampai minum-minuman herbal, tetapi semua ia lakukan belum dengan tekad yang kuat karena orang-orang di sekitarnya yang belum dapat mendukung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar