Nama : Anantika Prihatani
Kelas : I E
NPM : 15410228
Progdi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas PGRI Semarang
BIOGRAFI
Namanya Anantika Prihatani, biasa dipanggil
Tika. Dia anak pertama dari 3 bersaudara yang lahir di Boyolali tepatnya di
desa Kwiran kecamatan Banyudono pada tanggal 22 Februari 1997. Tika dibesarkan
di Kudus. Tempat tinggalnya saat ini di desa Panjang RT04/RW03 Kecamatan Bae Kabupaten
Kudus. Nama ayahnya Kanan yang lahir di kota Pati sebagai anak terakhir dari 8
bersaudara, beliau berprofesi sebagai polisi di POLSEK Dawe Kudus. Ayahnya seorang
yang sangat disiplin waktu terutama saat solat dan sangat bijaksana dalam melakukan
apapun. Nama ibunya Tani Supadmi (Almh), beliau anak ke 2 dari 3 bersaudara. Ibu
sangat pandai menari, terbukti saat beliau mengikuti beberapa kontes menari.
Tahun 2003 Tika kehilangan ibunda
tercintanya untuk selama-lamanya, ibunya mengidap penyakit tumor otak sebesar
bola tenis lapangan yang tidak memungkinkan untuk dioperasi. Penyakit beliau tidak
diketahui oleh keluarga besar sampai ayahnya pun mengetahuinya saat tumor itu sudah
mulai membesar, beliau sering mengeluhkan rasa sakit yang hebat dikepala sehingga
membuatnya merasakan bahwa kepala beliau seperti akan pecah. Ibunya meninggal
di Boyolali tepatnya di Rumah Sakit Kandang Sapi, saat itu Tika tidak tahu kalau
ada banyak saudara yang berdatangan, ia mengira akan ada arisan keluarga tetapi
tidak. Saat Tika masuk ke rumah, ia melihat semua orang menangis mengelilingi sebuah
kotak besar berwarna putih dipenuhi bunga-bunga, ayahnya menggendong Tika untuk
melihat isi kotak itu, Tika melihat ibunya tidur dengan nyenyak di kotak itu,
saat diberitahu sang ayah kalau ibunya telah meninggal, ia menangis sejadi-jadinya.
Dengan memeluk erat tubuh anaknya, beliau mencoba menguatkan dirinya. Saat kotak
itu digotong beberapa saudara, dengan sigap tante menggendong Tika keluar rumah
dan melakukan 3 kali putaran berjalan dibawah kotak besar berwarna putih itu
sebagai penghormatan terakhir yang dilakukan oleh keluarganya. Pemakaman yang
berlokasikan di Boyolali berjalan dengan lancar dipenuhi dengan pelayat yang
ikut mengantarkan sang ibunda ke peristirahatan terakhirnnya.
Seringkali Tika memikirkan ibunya,
sedang apa beliau, dimana beliau, dan bersama siapa beliau sekarang. Bersama
ayahhanda dan adiknya, ia melewati tahun-tahun tanpa didampingi seorang ibu. Ibu
yang selalu membuatkan sarapan untuknya, makan siang kesukaannya, dan makan bersama
dengan ayah dan adiknya. Meskipun begitu, ia merasa lebih beruntung dibandingkan dengan adiknya karena
ia hanya menikmati kasih sayang seorang ibu kandung dalam waktu satu setengah tahun
saja. Banyak orang diluar sana yang menyianyiakan ibu kandungnya, mereka lebih beruntung
dibandingkan dengan Tika. Ikhlas adalah kata yang mampu ia ucapkan saat seseorang
bertanya tentang sang ibunda, meskipun dalam hati ia menangis tetapi ia tidak akan
menangis didepan semua orang karena itu janjinya kepada ibunda tercinta.
Di tahun 2007 Tika memiliki ibu sambung bernama
Tri Kurniawati. Pertama kali ia mengenalnya saat beliau menjadi guru SD kelas 3
di sekolahnya. Berawal dari les di rumah beliau, sampai tidur di rumah beliau pernah
ia lakukan. Tika memanggilnya dengan sebutan mama, beliau seorang yang sangat tegas
terlihat dari caranya berbicara, beliau mendidik Tika untuk rajin belajar dan rajin membersihkan
seluruh rumah. Banyak orang mengira kalau seorang ibu sambung itu suka menyiksa
anak tirinya, semua itu tidak berlaku pada Tika. Beruntung sekali ia mendapatkan
ibu sambung yang baik serta dapat
mendidiknya dalam hal kebaikan, tidak lagi manja, suka kebersihan, dan tegas dalam
bersikap. Tika memiliki 1 adik kandung laki-laki bernama Andhika Citra Sena,
sekarang ia kelas 3 di SMP 5 Kudus. Adiknya yang satu ini sangat menyayangi hewan
terlebih pada kelinci, burung, ayam serama, dan kambing. Tika juga memiliki 1
adik perempuan yang lahir dari ibu sambungnya, ia bernama Atriska Rahma Pratidina,
sekarang ia kelas 3 di SD 1 Barongan tempat yang dengan tempat bekerja sang
mama. Adik saya ini pandai sekali dalam membaca puisi, tetapi ia sangat penakut,
ia selalu ikut jika ayah dan mamanya pergi. Meskipun ia tidak adik kandungnya,
Tika sangat menyayanginya seperti adik kandungnya sendiri. Mama dan ayahnya
juga tidak membeda-bedakan anaknya terlebih memanjakan ketiga anaknya.
Tika mulai sekolah pada umur 3 tahun karena
pada saat itu ia sangat senang belajar. Tika sekolah di TK Pembina Perumnas Gerbang
Harapan yang berlokasi di Perumnas Gerbang Harapan karena dulu sebelum Tika mempunyai
ibu sambung ia tinggal di Perumnas Gerbang Harapan, selanjutnya ia masuk di SDN
1 Barongan Kudus yang berlokasi di tengah kota Kudus. 6 tahun Tika belajar di
SD, kemudian ia melanjutkan di SMPN 2 Kudus yang saat itu masih menggunakan sistem
RSBI. Pada tahun ajaran 2012/2013 ia belajar di SMAN 2 Bae Kudus, kenaikan kelas
2 saatnya menentukan jurusan, Tika ditempatkan di jurusan IPA karena nilai
IPAnya lebih baik dibandingkan dengan nilai IPSnya. Sejak kelas 1 SMA Tika memiliki
4 sahabat bernama Rani yang sekarang melanjutkan kuliah di UNSOED prodi Agroteknologi,
Oxza yang sekarang melanjutkan kuliah di UPGRIS prodi Pendidikan Matematika,
Azmi yang sekarang melanjutkan kuliah di UNNES prodi Pendidikan Seni Rupa, dan Na’ima
yang sekarang melanjutkan kuliah di UMK prodi Menejemen. Seluruh teman dan guru
di SMA mengetahui persahabatannya, tetapi saat ini ia berpisah dengan sahabatnya
karena melanjutkan kuliah di Universitas yang berbeda, meskipun begitu setiap
Minggu mereka menyempatkan bertemu untuk melepas rasa rindunya.
Pada saat kelulusan Tika memilih melanjutkan
di Universitas PGRI Semarang dengan mengambil prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia karena ia merasa sangat tertantang mempelajari bahasa Indonesia. Saat
SMA nilai bahasa asingnya lebih baik dibandingkan dengan bahasa Indonesia, maka
dari itu ia mencoba mencari tahu letak kesalahannya saat memahami bahasa
Indonesia. Memiliki teman baru seperti Prananing yang tinggal di Semarang
membuat Tika lebih bersemangat dalam belajar dan berorganisasi, ia selalu mendukungnya
dalam melakukan apapun. Dalam kelas, Tika menjadi seseorang yang mudah sekali berinteraksi
kepada teman-teman. Saat ini ia kos di jalan Hiri Raya nomor 4, ia memiliki teman-teman
yang baik di kos seperti Nuri yang berasal dari Pati, Fitri yang berasal dari Pekalongan,
Kak Windi yang berasal dari Batang, Kak Isfa, Kak Wiwid, Kak Eka yang berasal dari
Pemalang dan masih banyak lagi. Mereka mudah sekali menerima keluarga baru, dan
tidak membeda-bedakan status.
Cita-cita Tika sebenarnya ingin menjadi seperti
sang ayah, tetapi fisiknya yang tidak memungkinkan untuk mengikuti seleksi,
jadi ia mengurungkan niatnya untuk menjadi seperti ayahnya. Baginya menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia, tidak mudah
menjadi seorang guru meski ia pandai sekalipun. Hobinya adalah berenang, tetapi
makan-makanan ringan yang lebih sering ia lakukan, hobi inilah yang membuatnya tidak
bisa mengikuti seleksi. Dulu Tika sangat kurus sehingga tetangga sekitar mengiranya
tidak pernah diberi makan, tetapi saat ia gemuk seperti sekarang, banyak orang
yang mengiginkannya untuk menguruskan badan. Menguruskan badan tidaklah mudah,
sudah beberapa cara Tika lakukan mulai dari diet ketat sampai minum-minuman
herbal, tetapi semua ia lakukan belum dengan tekad yang kuat karena orang-orang
di sekitarnya yang belum dapat mendukung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar